MAKALAH
HEMATOLOGI III
“ANEMIA MEGALOBLASTIK”
DISUSUN
OLEH
NAMA : ROSYINTA MUIM
NIM : 18 3145 353 103
KELAS : 2018 C
PROGRAM STUDY DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI,
TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Puji
syukur yang dalam kami sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan
rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Hematologi III
tentang “Anemia Megaloblatik” ini dengan lancar dan tepat waktu.
Kami
menyadari sepenuhnya akan kemampuan yang masih terbatas, sehingga masih banyak
kekurangan yang terdapat dalam makalah ini dan hasilnya belum dapat dikatakan
sempurna. Oleh karena itu, masukan, kritik dan saran yang sifatnya membangun
kami nantikan dalam rangka kesempurnaan makalah ini. Dan dengan ini kami
berharap makalah ini dapat memberikan dampak baik bagi para pembaca semua.
Wassalamualaikum
Warrahmatulahi Wabarakatu
Makassar, 21 Maret 2020
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A LATAR
BELAKANG
Anemia
megaloblastik adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya perubahan abnormal
dalam pembentukan sel darah, sebagai akibat adanya ketidaksesuaian Antara
pematangan inti dan sitoplasma pada seluruh sel deri myeloid dan eritroid.
Anemia megaloblastik merupakan manifestasi yang paling khas untuk defisiensi
folat. Mekanisme biokimiawi yang mendasari terjadinya perubahan megaloblastik
adalah terganggunya konversi dump menjadi dTMP. Dalam keadaan normal dump
dikonversi menjadi dTMP dengan adanya enzim timidilat sintetase yang
membutuhkan koenzim folat. Pada defisiensi folat dump diubah menjadi dUTP
melebihi kapasitas kerja enzim dUTP dalam sel melalui konversi kembali menjadi dump,
akibatnya terjadi penumpukan dUTP di dalam sel, sehingga terjadi kelambatan
dalam sintesis DNA.gambaran darah tepi yang paling sering dihubungkan dengan
anemia megaloblasti adalah makrositosis. Makrositosis yang khas adalah
makroovalositosis. Hipersegmentasi neutrophil merupakan tanda pertama dari
anemia megaloblastik di daerah tepi; bila ditemukan 5% neutrophil dengan lobus
lebih dari lima kemungkinan adanya defisiensi asam folat meningkat menjadi 98%.
Pansitopenia dapat juga ditemukan pada anemia megaloblastik dengan derajat yang
bervariasi dan merupakan atribut langsung dari proses hemopoesis yang inefektif
dari sumsum tulang. Sumsum ulang menunjukkan gambaran hiperseluler dengan
hiperplasi seri eritroid. Precursor eritroid tampak sangat besar yang disebut megaloblast.
Pada seri myeloid dijumpai adanya sel batang dan metamielosit yang sangat besar
(giant meta) myelocyte (Helena dan Debby, 2002).
B TUJUAN
PENELITIAN
1. Tujuan
Umum
Mahasiswa
mampu memahami secara umum tentang anemia megaloblatik.
2. Tujuan
Khusus
a. Memahami
hal-hal yang berkaitan dengan definisi anemia megaloblastik.
b. Memahami
hal-hal yang berkaitan dengan klasifikasi anemia megaloblastik.
c. Memahami
hal-hal yang berkaitan dengan etiologi anemia megaloblastik.
d. Memahami
hal-hal yang berkaitan dengan patofisiologi tanda dan gejala anemia
megaloblastik.
e. Memahami
hal-hal yang berkaitan dengan penatalaksanaannya atau penanganan anemia
megaloblastik.
BAB
II
PEMBAHASAN
A ANEMIA
SECARA UMUM
Anemia
adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 100 ml darah.
Secara fisiologis, anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin
untuk mengangkut oksigen ke jaringan sehingga tubuh akan mengalami hipoksia.
Anemia bukan suatu penyakit atau diagnosis melainkan merupakan pencerminan ke
dalam suatu penyakit atau dasar perubahan patofisiologis yang diuraikan oleh
anamneses dan pemeriksaan fisik yang teliti serta didukung oleh pemeriksaan laboratorium
(Ngastiyah, 1997).
Pada
anemia, karena semua system organ dapat terlihat, maka dapat menimbulkan
manifestasi klinik yang luas. Menurut deGrochy pada tahun 1978, manifestasi ini
bergantung pada:
1. Kecepatan
timbulnya anemia
2. Umur
individu
3. Mekanisme
kompenasinya
4. Tingkat
aktivitasnya
5. Keadaan
penyakit yang mendasari
6. Parahnya
anemia tersebut
Karena jumlah efektif sel darah merah
berkurang, maka lebih sedikit O2 yang dikirimkan ke jaringan. Kehilangan darah
yang mendadak (30% atau lebih), seperti pada perdarahan, menimbulkan
simtomatoogi sekunder hypovolemia dan hipoksemia. Namun pengurangan hebat massa
sel darah merah dalam waktu beberapa bulan (walaupun pengurangannya 50%)
memungkinkan mekanisme kompensasi tubuh untuk menyesuaikan diri dan biasanya
penderita asimtomatik, kecuali pada kerja jasmani berat (deGrochy, 1978).
Menurut deGrochy, pada tahun 1978, mekanisme
kompensasi bekerja melalui:
1. Peningkatan
curah jantung dan pernapasan, karena itu menambah pengiriman O2 ke
jaringan-jaringan oleh sel darah merah.
2. Meningkatkan
pelepasan O2 oleh hemoglobin.
3. Mengembangkan
volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan, dan
4. Redistribusi
aliran darah ke organ-organ vital (deGrochy, 1978).
B DEFINISI
ANEMIA MEGALOBLASTIK
Anemia
megaloblastik adalah anemia yang khas ditandai oleh adanya sel megaloblast
dalam sumsum tulang. Sel megaloblast adalah sel precursor eritrosit dengan
bentuk sel yang besar disertai adanya kes, dimana maturasi sitoplasma normal
tetapi inti besar dengan susunan kromosom yang longgar (Wiwik dan Andi, 2008).
Anemia
megaloblastik yang disebabkan oleh anemia pernisiosa banyak dijumpai pada
orang-orang Skandinavia, Inggris dan Irlandia dengan angka kejadian 90 kasus
tiap 100.000 penduduk per tahun. pernah dilaporkan adanya anemia pernisiosa
pada penduduk Afrika Selatan, Daratan Cina dan Arab. Belum pernah dilaporkan
tentang kejadian anemia pernisiosa di Indonesia (Wiwik dan Andi, 2008).
Anemia
megaloblastik adalah kumpulan penyakit yang disebabkan oleh gangguan sintesis
DNA. Sel terutama yang terkena adalah sel yang pertukarannya (turn over) cepat,
terutama sel precursor hematopoetik dan sel epitel gastro-intestinal
(Isselbacher, 2015).
C KLASIFIKASI
ANEMIA MEGALOBLASTIK
Menurut
penyebabnya anemia megaloblastik dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu (Wiwik
dan Andi, 2008):
1. Anemia
megaloblastik karena defisiensi vitamin B12
a. Penderita
yang tidak makan daging hewan atau ikan, telur serta susus yang mengandung
vitamin B12.
b. Adanya
melabsorpsi akibat kelainan pada organ berikut ini:
·
Kelainan lambung
(anemia pernisiosa, kelainan kongenital, factor intrinsic serta gastrektomi total
atau parsial).
·
Kelainan usus
(intestinal loop syndrome, tropical sprue dan post reaksi ileum).
2. Anemia
megaloblastik karena defisiensi asam folat
a. Disebabkan
oleh makanan yang kurang gizi asam folat, terutama pada orang tua, fakir
miskin, gastrektomi parsial dan anemia akibat hana minum susu kambing.
b. Malasorpsi
asam folat karena penyakit usus.
c. Kebutuhan
yang meningkat akibat keadaan fisiologis (hamil, laktasi, prematuritas) dan
keadaan patologis (anemia hemolitik, keganasan serta penyakit kolagen.
d. Ekskresi
asam folat yang berlebihan lewat urine, biasanya terjadi pada penyakit hati
yang aktif atau kegagalan faal jantung.
e. Obat-obatan
antikovulsan dan sitostatik tertentu.
Anemia
megaloblastik karena kombinasi defisiensi vitamin B12 dan asam folat merupakan anemia
megaloblastik akibat defisiensi enzim kongenital atau pada eritroleukimia
(Wiwik dan Andi, 2008).
D ETIOLOGI
ANEMIA MEGALOBLASTIK
Sebagaian
besar anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi kobalamin (Vit B12) dan
atau asam folat (Isselbacher, 2015). Anemia makrositik diklasifikasikan sebagai
megaloblastik dan non-megaloblastik, berdasarkan ada tidaknya gangguan sintesis
DNA globin. Anemia megaloblastik terjadi akibat gangguan sitoplasma pada sel
yang sedang bermitosis yang berakibat pembentukan sel yang lebih besar daripada
normal, dua kofaktor yang penting dalam hal ini adalah asam folat dan vitamin
B12. Komposisi asam folat terdiri dari cincin protein yang terikat dengan asam
paraamino benzoate (PABA) dan berkonjugasi dengan glutamate. Asam folat
bersifat essensial karena manusia tidak dapat membentuknya secara endogen. Asam
folat bersifat essensial karena manusia tidak dapat membentuknya secara
endogen. Asam folat terdapat dalam sayuran berdaun hijau, buah-buahan keluarga
sitrus (jeruk, tomat), kacang-kacangan dan produk hewan (hati ayam, hati sapi)
Menurut
Wiwik dan Andi pada tahun 2008, Penyebab anemia megaloblastik adalah sebagai
berikut:
1. Defisiensi
vitamin B12
a. Asupan
kurang pada vegetarian
b. Malabsopsi
·
Dewasa: anemia
pernisiosa, gastrektomi total/parsial penyakit Chron’s, parasite, limfoma usus
halus, obat-obatan (neomisin, etanol, KCL).
·
Anak-anak: anemia
pernisiosa, gangguan sekresi, faktor intrinsic lambung dan ganguan reseptor
kobalamin di ileum).
c. Gangguan
metabolisme seluler, defisiensi enzim, abnormalitas protein pembawa kobalamin
(defisiensi transkobalamin) dan paparan nitrit oksida yang berlangsung lama.
2. Defisiensi
asam folat
a. Asupan
kurang
·
Gangguan nutrisi:
alkoholisme, bayi premature, orang tua, hemodialisis dan anoreksia nervosa.
·
Malabsopsi: gastrektomi
parsial, reseksi usus halus, penyakit Chron’s, scleroderma dan obat
antikonvulsan.
b. Peningkatan
kebutuhan kehamilan, anemia hemolitik, keganasan, hipertiroidisme serta
eritropoesis yang tidak efektif (anemia pernisiosa, anemia sideroblastik,
leukemia, anemia hemolitik).
c. Gangguan
metabolisme folat: alkoholisme, defisiensi enzim.
d. Penurunan
cadangan folat di hati: alkoholisme, sirosis non-alkoholik dan hepatoma.
3. Gangguan
metabolisme vitamin B12 dan asam folat.
4. Gangguan
sintesis DNA yang merupakan akibat dari proses defisiensi enzim kongenital
ataupun didapat setelah pemberian obat atau sitostatik tertentu (Wiwik dan
Andi, 2008).
E PATOFISIOLOGI
TANDA DAN GEJALA ANEMIA MEGALOBLASTIK
1. Patofisiologi
Timbulnya
megaloblast adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena terjadi gangguan
sintesis DNA sel-sel eritroblast akibat defisiensi asam folat dan vitamin B12,
dimana vitamin B12 dan asam folat berfungsi dalam pembentukan DNA inti sel dan
secara khusus untuk vitamin B12 penting dalam pembentukan myelin. Akibat
gangguan sintesis DNA pada inti eritroblast ini, maka maturasi inti lebih
lambat, sehingga kromatin lebih longgar dan sel menjadi lebih besar karena
pembelahan sel yang lambat. Sel eritroblast dengan ukuran yang lebih besar
serta susunan kromatin yang lebih longgar disebut sebagai sel megaloblast. Sel
megaloblast ini fungsinya tidak normal, dihancurkan saat masih dalam sumsum
tulang sehingga terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup eritrosit lebih
pendek yang berujung pada terjadinya anemia (Wiwik dan Andi, 2008).
Beberapa
bentuk anemia dapat terjadi akibat gangguan absobsi atau metabolisme folat atau
kobalamin (Vit. B12). akibatnya, sintesi
DNA akan dihambat dan siklus sel jadi diperlambat selama eritropoesis. Namun,
sintesis hemoglobin di sitoplasma berlangsung terus dan tidak mengalami
perubahan sehingga ukuran eritroblast membesar (megaloblast) serta menjadi
terlalu besar dan eritrosit yang oval akan masuk ke dalam darah (megalosit:
MCV> 100 fl). Pembentukan granulosit dan megakariosit juga terganggu.Di
samping penundaan proloferasi, anemia juga dicetuskan oleh kerusakan dini
megaloblast di sumsum tulang (peningkatan eritropoesis yang tidak efisien) dan
juga karena pemendekan masa hidup megalosit yang masuk dalam darah (Isselbacher,
2015).
Defisiensi
vit B12 dan asam folat diyakini akan menghambat sintesis DNA untuk replikasi
sel termasuk SDM sehingga bentuk, jumlah dan fungsinya tidak sempurna. Faktor
intrinsic berasal dari sel-sel lambung yang dipengaruhi oleh pencernaan protein
(glukoprotein), faktor ini akan mengalir ke ileum untuk membantu mengabsorpsi
Vit B12. Vit B12 juga berperan dalma pembentukan myelin pada sel saraf sehingga
terjadinya defisiensi akan menimbulkan gangguan neurologi (Kowalak, 2017).
2. Tanda
dan Gejala Anemia Megaloblastik
Menurut
Mauli pada tahun 2015, tanda dan gejala anemia megaloblastik yaitu:
a. Pada
defisiensi kobalamin terjadi gangguan neurologis seperti parastesi tangan dan
kaki, kehilangan memori selanjutnya jika keadaan memberat dapat mempengaruhi
gaya berjalan, kebutaan akibat atropi N. Optikus dan gangguan kejiwaan.
b. Pada
gangguan gastrointestinal dapat timbul gejala kehilangan nafsu makan, penurunanberat
badan, mual dan sembelit. Diikuti dengan sariawan dan sakit pada lidah.
F PENATALAKSANAAN
ATAU PENANGANAN ANEMIA MEGALOBLASTIK
Untuk
mendiagnosis anemia megaloblastik dan memastikann penyebabnya, dokter akan
melakukan pemeriksaan darah lengkap. Setelah itu, dokter akan memberikan
pengobatan untuk mengatasi kekurangan vitamin B12 atau asam folat. Pengobatan
dapat berupa pemberian suplemen multivitamin, baik melalui obat minum maupun
suntikan. Selain itu, penderita juga dianjurkan untuk memperbanyak asupan yang
kaya vitamin B12 dan asam folat. Untuk memantau keberhasilan pengobatan,
pemeriksaan darah akan kembali dilakukan 10-14 hari sejak pengobatan dimulai.
Jika pengobatan berhasil, penderita anemia megaloblastik tidak memerlukan
pemantauan lebih lanjut, kecuali bila gejala muncul kembali (Annisa, 2018).
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
A KESIMPULAN
Anemia
megaloblastik adalah anemia yang khas ditandai oleh adanya sel megaloblast
dalam sumsum tulang. Sel megaloblast adalah sel precursor eritrosit dengan bentuk
sel yang besar disertai adanya kes, dimana maturasi sitoplasma normal tetapi
inti besar dengan susunan kromosom yang longgar. Tanda dan gejala anemia
megaloblastik yaitu terjadi gangguan neurologis seperti parastesi tangan dan
kaki, kehilangan memori selanjutnya jika keadaan memberat dapat mempengaruhi
gaya berjalan, kebutaan akibat atropi N. Optikus dan gangguan kejiwaan serta pada
gangguan gastrointestinal dapat timbul gejala kehilangan nafsu makan,
penurunanberat badan, mual dan sembelit. Diikuti dengan sariawan dan sakit pada
lidah.
B SARAN
Dari
pemaparan di atas, kami memberikan saran agar dalam ilmu kesehatan bahwa
penting sekali memahami anemia megaloblastik secara tepat agar terhindar dari
kesalahan dalam tindakan baik di rumah sakit maupun di lingkungan sekitar yang
berhubungan dengan anemia itu sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Annisa.
2018. Waspada Anemia Megaloblastik. Tangerang:
Artikel.
Ardhiya,
Mauli. 2015. Anemia Megaloblastik. Bandung:
Academia.
Braunwald,
Isselbacher. 2015. Harrison: Prinsip-Prinsip
Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Ngastiyah.
1997. Anemia Megaloblastik. Surabaya:
EGC.
Handayani,
Wiwik dan Haribowo, Andi Sulistyo. 2008. Buku
Ajar Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta:
Salemba Medika.
Kowalak.
2017. Buku Ajar Patofisiologi.
Jakarta: EGC.
Braunwald,
Isselbacher. 2015. Harrison: Prinsip-Prinsip
Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Silbernagl,
Stefan. 2014. Teks dan Atlas Berwarna
Patofisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Sudoyo,
Aru W. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Volume II. Jakarta: Buku Kedokteran FK UI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar