PEMERIKSAAN
PENEGAKAN DIAGNOSIS ANEMIA
DISUSUN
OLEH
NAMA : ROSYINTA MUIM
NIM : 18 3145 353 103
KELAS : 2018 C
PROGRAM STUDY DIV
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
2020
1. TES
DARAH RUTIN
A. Pra Analitik
1)
Persiapan pasien : Tidak ada persiapan pasien
2)
Persiapan sampel : Darah EDTA 10%
3)
Prinsip : Impedance berupa
larutan elektrolit (dilluent) yang telah dicampur dengan sel-sel darah melalui aperture,
hambatan antara kedua elektroda tersebut akan naik sesaat dan terjadi perubahan
tegangan yang sangat kecil sesuai dengan nilai tahanannya.
4)
Alat dan
bahan
·
Hematologi analyer
·
Tabung reaksi
·
Rak tabung
5)
Metode : Volumetric
impedance
B. Analitik
1)
Disiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan.
2)
Dihidupkan UPS,
ditekan main power yang terletak pada bagian belakang alat, sehingga lampu
indikator main power menyala.
3)
Ditekan tombol
power yang terdapat pada bagian depan alat, alat akan secara otomatis melakukan
cleaning dan priming.
4)
Ditunggu sampai
alat siap digunakan.
5)
Dilakukan pembacaan
kontrol.
6)
Dimasukkan data
pasien pada computer/display lalu dikirim data tersebut ke alat.
7)
Dipastikan darah
tidak menggumpal pada tabung dan dimasukkan sampel pada rak tabung sesuai data
pasien yang telah diinput, kemudian tekan tombol start dan akan dilakukan
analisa oleh alat.
8)
Hasil akan
dikeluarkan dalam bentuk print out.
C. Pasca
Analitik
1) Eritrosit
Wanita : 4 juta-5 juta/ul darah
Pria : 4,5 juta-5,5 juta/ul darah
2) Hemoglobin
Wanita : 12-14 g/dl
Pria : 14-16 g/dl
3) Hematokrit
Wanita : 38-46%
Pria : 40-54%
4) Leukosit : 5 juta-1 juta/ul darah
5) Trombosit : 150.000-400.0004/ul darah
6) Laju
endap darah
Wanita : <15
P4ria : <10
7) Indeks
eritrosit
MCH : 7-31 pg
MCV : 80-96 fl
MCHC : 32-36 g/dl
2. TES
APUSAN DARAH TEPI
A. Pra
Analitik
1) Persiapan
pasien: tidak memerlukan persiapan khusus.
2) Prinsip
tes:
·
Prinsip sediaan apus:
dibuat apusan darah pada kaca objek.
·
Prinsip pewarnaan
didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang bersifat asam akan
bereaksi dengan komponen sel yang bersifat alkalis, demikian pula sebaliknya.
Pewarnaan sediaan apus menggunakan prinsip Romanosky yaitu menggunakan dua zat
warna yang berbeda yang terdiri dari Azure B (trimethylthionin) yang bersifat
basa dan eosin Y (tetrabromoflourescein) yang bersifat asam seperti yang
dianjurkan oleh The International Council for Standardization in Hematology,
dan pewarnaan yang dianjurkan adalah Wright-Giemsa dan May Grunwald-Giemsa
(MGG).
3) Persiapan
sampel:
·
Darah kapiler segar
akan memberikan morfologi dan hasil pewarnaan yang optimal pada sediaan apus.
·
Darah EDTA (etilen
diamin tetra asetat). EDTA dapat dipakai karena tidak berpengaruh terhadap
morfologi eritrosit dan lekosit serta mencegah trombosit bergumpal. Tes
sebaiknya dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam. Tiap 1 ml EDTA digunakan
untuk 1 ml darah vena.
4) Alat
dan bahan
·
Alat
a.
Kaca Objek 25x75
mm
b.
Batang gelas
c.
Rak kaca objek
d.
Pipet Pasteur
·
Bahan/reagen
a.
Metanol absolut dengan
kadar air kurang dari 4%, disimpan dalam botol yang tertutup rapat untuk
mencegah masuknya uap air dari udara
b.
Zat warna Wright
c.
Methanol absolut
d.
Larutan dapar pH 6,4
e.
Zat warna
f.
Zat warna May -
Grunwald Methylene blue dalam methanol
1% eosin dan 1 % methylene blue
B. Analitik
1) Cara
Membuat Sediaan Apus
a. Dipilih
kaca objek yang bertepi rata untuk digunakan sebagai „kaca penghapus sudut kaca
objek yang dipatahkan, menurut garis diagonal untuk dapat menghasilkan sedian
apus darah yang tidak mencapai tepi kaca objek.
b. Satu
tetes kecil darah diletakkan pada ± 2 –3 mm dari ujung kaca objek. Kaca
penghapus diletakkan dengan sudut 30 – 45 derajat terhadap kaca objek didepan
tetes darah.
c. Kaca
pengapus ditarik ke belakang sehingga tetes darah, ditunggu sampai darah menyebar
pada sudut tersebut.
d. Dengan
gerak yang mantap, kaca penghapus didorong sehingga terbentuk apusan darah
sepanjang 3 – 4 cm pada kaca objek. Darah harus habis sebelum kaca penghapus
mencapai ujung lain dari kaca objek. Apusan darah tidak bolah terlalu tipis
atau terlalu tebal, ketebalan ini dapat diatur dengan mengubah sudut antara
kedua kaca objek dan kecepatan menggeser. Makin besar sudut atau makin cepat
menggeser, maka makin tipis apusan darah yang dihasilkan.
e. Apusan
darah dibiarkan mengering di udara. Identitas pasien ditulis pada bagian tebal
apusan dengan pensil kaca.
2) Cara
Mewarnai Sediaan Apus
·
Pewarnaan Wright
a. Letakkan
sediaan apus pada dua batang gelas.
b. Fiksasi
sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3 menit.
c. Genangi
sediaan apus dengan zat warna Wright biarkan 3 – 5 menit.
d. Tambahkan
larutan dapar tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 5 – 10
menit.
e. Bilas
dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan
tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna.
f. Letakkan
sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan mengering.
·
Pewarnaan Giemsa
a. Letakkan
sediaan apus pada dua batang gelas di atas bak tempat pewarnaan.
b. Fiksasi
sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3 menit.
c. Genangi
sediaan apus dengan zat warna Giemsa yang baru diencerkan. Larutan Giemsa yang
dipakai adalah 5%, diencerkan dulu dengan larutan dapar. Biarkan selama 20 – 30
menit.
d. Bilas
dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan
tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna.
e. Letakkan
sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan mengering.
·
Pewarnaan May Grunwald
– Giemsa (MGG)
a. Letakkan
sediaan apus yang telah difiksasi diatas rak pewarnaan
b. Genangi
sediaan apus dengan zat warna May Grunwald yang telah siap pakai, biarkan 2
menit
c. Tambahkan
larutan buffer pH 6.4 sama banyak dengan larutan MGG yang telah diberikan
sebelumnya.
d. Tiup
agar larutan dapat tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 2 menit.
e. Bilas
dengan air (buang kelebihan zat warna).
f. Genangi
dengan larutan Giemsa 5% (larutan buffer pH 6.4 10 ml + Giemsa 0,5 ml) biarkan
selama 10-15 menit.
g. Bilas
dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan
tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna.
h. Letakkan
sedian dalam sikap vertikal dan biarkan mengering sendiri.
C. Pasca
Analitik
1) Evaluasi
Eritrosit
a. Ukuran
(size): Diameter eritrosit yang normal (normositik) adalah 6 – 8 µm atau kurang
lebih sama dengan inti limfosit kecil.
b. Bentuk
(shape): Bentuknya bikonkaf bundar dimana bagian tepi lebih merah daripada
bagian sentralnya.
c. Warna
(staining): Bagian sentral lebih pucat disebut akromia sentral yang luasnya antara
1/3 -1/2 kali diameter eritrosit.
d. Benda-benda
inklusi (structure intracel)
e. Distribusi:
merata
2) Evaluasi
Lekosit
a. Eosinofil
(1% - 3%)
b. Basofil
(0-1%)
c. Neutrofil
batang (2%-6%)
d. Neutrofil
segmen atau sel PMN (50%-70%)
e. Limfosit
(20%-40%) dan monosit (2%-8%).
3) Evaluasi
Trombosit
Diameter
trombosit adalah 1-3 µm, tidak berinti, mempunyai granula dan bentuknya
reguler. Perkiraan jumlah trombosit dalam keadaan normal diperkirakan terdapat
1 trombosit per 15 – 20 eritrosit atau 5 – 15 per lapangan pandang imersie.
3. PEMERIKSAAN
RETIKULOSIT
A. Pra
Analitik
1) Persiapan
pasien: tidak memerlukan persiapan khusus.
2) Prinsip:
Darah dicampur dengan larutan, Brilliant Crecyl Blue atau larutan New Methylene
Blue, lalu dibuat sediaan. Dan jumlah retikulositnya dihitung dibawah
mikroskop. Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam
%
3) Alat
dan bahan
a. Alat
·
Tabung reaksi kecil
·
Kaca obyek dan kaca
penggeser
·
Pipet Pasteur
·
Penangas air
·
Mikroskop.
b. Bahan
· Sampel
darah
· Brilliant
Cresyl Blue
· New
Methylene Blue (Colour Index 52030)
· Larutan
sitrat salin
B. Analitik
·
SEDIAAN KERING
a. Kedalam
tabung reaksi kecil teteskan 3 tetes larutan Brilliant Cresyl Blue atau New
Methylene Blue.
b. Tambahkan
3 tetes darah, campurkan baik-baik dan biarkan pada suhu ruangan selama 15
menit agar pewarnaan sempurna. Cara yang
lain: Setelah ditambahkan 3 tetes darah, campurkan baik-baik, tabung ditutup
dengan parafilm dan diinkubasi pada 370c selama 30-60 menit.
c. Setelah
inkubasi, tabung dihomogenkan lagi dan ambil 1 tetes untuk membuat sediaan
apus. Keringkan di udara dan diperiksa di bawah mikroskop.
d. Periksalah
dengan perbesaran obyektif 100 kali.
e. Dicari
daerah yang baik yaitu eritrosit tidak tumpang tindih. Retikulosit tampak
sebagai sel yang lebih besar dari eritrosit. Dan mengandung filamen atau
granula. Dengan BCB, eritrosit berwarna biru keunguan dengan filamen atau
granula berwarna ungu. Bila menggunakan
NMB, retikulosit berwarna biru dengan filamen atau granula berwarna biru tua.
f. Hitunglah
jumlah retikulosit per 1000 eritrosit dengan lensa emersi
g. Jumlah
retikulosit dapat dinyatakan persen per mil terhadap jumlah eritrosit total
atau dilaporkan dalam jumlah mutlak.
·
SEDIAAN BASAH
a. Taruh
1 tetes larutan BCB ditengah-tengah kaca obyek.
b. Tambahkan
2 tetes darah dilarutan BCB, homogenkan darah dengan larutan BCB dengan menggunakan
sudut kaca obyek.
c. Tutup
dengan kaca penutup
d. Periksa
dengan minyak emersi.
Jika didapatkan jumlah retikulosit yang
tinggi atau disertai dengan nilai hematokrit rendah maka dilakukan koreksi
terhadap nilai retikulosit.
C. Pasca
Analitik
Nilai rujukan= 0,5 –
1,5%
Hitung retikulosit
meningkat pada: perdarahan akut, hemolisis,
RP I <2% = kegagalan sum-sum tulang membentuk
eritrosit.
RP I 2–3% = respons
baik terhadap anemia hemolitik
RP I >3% = Hiperproliferasi
4. TES
COOMB’S
A. Pra
Analitik
1) Persiapan
pasien: Catat daftar obat yang sedang
dikonsumsi pasien. Obat yang dapat mempengaruhi tes ini adalah penisilin,
sefalosporin, antihipertensi dan
lain-lain.
2) Prinsip:
Penambahan serum Coomb‟s (serum hewan yang mengandung antibodi spesifik
terhadap globulin manusia) pada eritrosit yang tersensitisasi atau eritrosit
yang terbungkus dengan imunoglobulin atau komplemen akan menimbulkan suatu
aglutinasi .
3) Persiapan
sampel: hindari sampel hemolisis, sampel darah dengan antikoagulan natrium
sitrat 3,8%. Tes sebaiknya dilakukan selambatnya 2 jam.
4) Alat
dan bahan
a. Alat
·
Tabung reaksi
·
Pipet tetes
·
Sentrifuge
·
Inkubator
·
Kaca obyek dan kaca
penggeser
b. Bahan
·
Darah sitrat (1:9)
·
Larutan NaCl fisiologis
(0,9%)
·
Reagen Coomb‟s
A. Analitik
1) Sebanyak
0,5 ml darah yang diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
2) Lakukan
pencucian eritrosit 4 kali berturut-turut dengan setiap kali dilakukan sentrifus
kemudia plasma dibuang.
3) Buatlah
suspensi eritrosit yang tertinggal dalam tabung setelah sentrifus terakhir
dengan menambah sekian banyak NaCl fisiologis sampai suspensi eritrosit mempunyai
nilai hematokrit 2%.\
4) Ke
dalam tabung 75 x 10 mm, masukkan 1 tetes suspensi tadi kemudian tambahkan
dengan 2 tetes reagen Coomb‟s.
5) Campur
kemudian inkubasikan pada suhu 370C selama 30-50 menit.
6) Kocok
dengan hati-hati tabung tersebut lihat adanya aglutinasi, konfirmasikan dengan
menggunakan mikroskop.
7) Jika
hasilnya negatif lakukan sentrifus kembali dengan 1000 rpm selama 1 menit.
8) Periksa
kembali adanya aglutinasi seperti langkah 6.
9) Bandingkan hasil tes dengan kontrol positif
dan kontrol negatif.
C. Pasca
Analitik
Negatif:
Tidak terjadi aglutinasi membuktikan adanya antibodi yang melapisi eritrosit.
Positif: Terjadi
aglutinasi membuktikan adanya antibodi yang melapisi eritrosit.
5. TES
FE SERUM DAN TIBC (Total Iron Binding Capacity)
A. Pra
Analitik
1) Persiapan
pasien: pasien berhenti meminum obat oral Fe 12 jam sebelumnya.
2) Persiapan
sampel: serum atau plasma heparin
3) Prinsip:
·
Fe Serum: Ikatan antara ferri (Fe3+) dan
transferrin dilepaskan oleh guanidine dalam suasana pH ,8. Asam askorbat akan
4mere4d4uksi io4n ferri (Fe3+) menjadi ferro (Fe+)
kemudian akan bereakdi dengan ferrozine membentuk komplek berwarna.
·
TIBC: TIBC dievaluasi
setelah transferrin sampai junuh oleh larutan besi dan kelebihan besi akan
diabsorpsi oleh magnesium hydroxide carbonate. Setelah dicentrifuge, konsentrasi
besi dalam supernatant diukur.
4) Alat
dan bahan
a. Alat
·
Tabung plastik
·
Glassware
b. Bahan
· Serum
atau plasma heparin
· Iron
free water
· Reagen
1, reagen 2 dan reagen 3 Fe serum
· Reagen
1 dan reagen 2 TIBC
· Standar
B. Analitik
·
Fe Serum
a. Membuat
larutan kerja dengan cara melarutkan 1 sendok reagen 2 dalam 0 ml reagen 1.
Tunggu hingga tercampur dengan baik. Stabilkan selama minggu pad4a suhu 2-8 0C dan 3
hari pada suhu 20-25 0C.
b. Masukan
blanko aquades 10 ul pada tabung pertama, pada tabung kedua dimasukan standar 150
ul dan pada tabung ketiga diisi sampel sebanyak 150 ul. Tambahkan masing-masing
tabung 500 ul reagen kerja. Tunggu selama 50 detik kemudian baca OD pada
panjang gelombang 560 nm (A1 dan A2).
c. Masukan
reagen 3 sebanyak 25 ul pada tabung pertama, kedua dan ketiga dimana tabung
kedua dan ketiga sebagai A3 dan A4. Tunggu selama 325 detik kemudian baca OD
pada panjang gelombang 560 nm (A3 dan A4).
Penghitungan:
A4-A24/A3-A1 x konsentrasi standar (n)
·
TIBC
a. Dimasukan
1 ml reagen R1 dan sampel 0,5 ml pada tabung 1. Inkubasi selama 5 menit.
b. Ditambahkan
1 sendok takar reagen R2 pada.
c. Inkubasi
selama 20 menit kemudian dicentrifuge 3000 rpm selama 10 menit.
d. Diambil
supernatant
e. Diperiksa
supernatan seperti pada S1 dengan supernatant : regan=1:3.
D. Pasca
Analitik
Fe Serum: 0,5-1,68
mg/dl
50-168 ug/dl
8,95-430
umol/l
TIBC:
·
Laki-laki dewasa:
2,6-3,9 mg/l
446,5-69,8 umol/l
260-390 ug/l
·
Wanita dewasa: 2,1-3,44
mg/l
37,6-60,9 umol/l
210-340 ug/l
6. TES
ELEKTROFORESIS HEMOGLOBIN
A. Pra
Analitik
1) Persiapan pasien: Tidak ada perkhusus yang diperlukan.
2) Prinsip:
Diukur Hb yang tidak terdenaturasi dengan penambahan sodium hidroksida kemudian
4ditambahkan ammonium sulfat lalu diukur.
3) Persiapan
sampel: disimpan satu minggu pada 40C.
4) Alat
dan bahan
a. Alat
·
Spektrofotometer
·
Stopwatch
·
Pipet 1,5
·
Kertas saring whatman
·
Tabung 12x10 mm
·
Vortex mixer
·
Funnels
b. Bahan
·
Hemolisat
·
Cyanide solution
·
NaOH 1,2 N
·
Ammonium sulfat jenuh
B. Analitik
1) Masukkan
3,8 ml larutan sianida ditambah 2 ml hemolisat untuk membuat HiCN.
2) Dipindahkan
ke dalam 2 tabung dimana tabung pertama sebanyak 0,4 ml HiCN dengan 6,75 ml
aquadest kemudian dibaca pada panjang gelombang 540 nm sebagai A Hb total.
3) Pada
tabung kedua dimasukan HiCN se4banyak 2,8 ml. biarkan 10 menit pada suhu ruang.
4) Dimasukkan
2 ml NaOH kemudian dicampur dengan vortex selama -3 detik kemudian inkubasi
selama 2 menit.
5) Dimasukkan ml (NH2)2SO4
dicampur dengan vortex selama 10 detik kemudian biarkan selama 5 menit.
6) Disaring
dengan kertas whatman kemudian baca pada panjang gelombang 540 nm sebagai A Hb
resisten alkali.
Perhitungan
presentasi Hb F
A540 Hb total x 10,01
C. Pasca
Analitik
Nilai normal: 0,2-1,0%
7. TES
EVALUASI SUMSUM TULANG
A. Pra
Analitik
1) Persiapan pasien: Diberitahukan kepada pasien
langkah-langkah yang akan dilakukan,
melakukan pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, faktor pembekuan darah
seperti prothrombin time, INR, APTT untuk memastikan tidak ada resiko
perdarahan data prosedur dilakukan.
2) Prinsip:
P4ereaksi asam-basa yang saling berikatan antara cat dengan sel darah, sesuai dengan sifat pH
dari setiap sel yang terdapat pada sel-sel darah tersebut. Giemsa pada dasarnya
merupakan gabungan dari dua macam cat yaitu methylene blue dan eosin dimana
methylene blue bersifat basa akan berikatan dengan bagian sel yang bersifat
asam dan memberikan warna biru sedangkan eosin yag bersifat asam akan mewarnai
bagian sel yang bersifat basa.
3) Persiapan
sampel: disimpan satu minggu pada 40C.
4) Alat
dan bahan
a. Alat
·
Objek glass
·
Pipet tetes
·
Cawan petri
·
Rak tabung
·
Mikroskop
b. Bahan
· Sampel
sumsum tulang
· Tabung
darah
· Metanol
· Giemsa
B. Analitik
1) Pembuatan
preparat spread (sebar)
a.
Siapkan alat dan bahan
yang akan digunakan
b.
Letakkan objek glass di
cawan petri dengan cara dimiringkan
c.
Teteskan 3-4 tetes
sampel sumsum tulang di atas objek glass tersebut
d.
Diambil bagian fragmen
menggunakan ujung objek glass yang baru
e.
Buat apusan di atas objek
glass yang lain
f.
Keringkan kemudian
fiksasi dengan methanol selama 5-10 menit
2) Pembuatan
preparat squash (tekan)
a. Siapkan
alat dan bahan yang akan digunakan
b. Letakkan
objek glass di cawan petri dengan cara dimiringkan
c. Teteskan
3-4 tetes sampel summsum tulang di atas objek glass tersebut
d. Letakkan
di atas objek glass baru
e. Ratakan
dan tekan kemudian geser secara datar sampai ujung objek glass dengan cepat
f. Keringkan
kemudian fiksasi dengan methanol selama 5-10 menit
3) Pewarnaan
giemsa
a. Genangi
sediaan dengan larutan kerja gie4msa selama 20-30 menit
b. Sisa
cat dibuang kemudian cuci dengan air mengalir
c. Keringkan
dan periksa di bawah mikroskop
C. Pasca
Analitik
1) Normoselluler : volume lemak 20% dari sel
hemapoietik
2) Hyposelluler : sel hemapoietik diganti oleh sel
lemak
3) Hyperselluler : hampir semua lemak diaganti oleh
sel hemapoietik
8. TES KADAR ASAM FOLAT/VITAMIN B12 PLASMA
8. TES KADAR ASAM FOLAT/VITAMIN B12 PLASMA
A. Pra
Analitik
1).
Persiapan pasien: Puasa (Tidak diperbolehkan makan dan minum, kecuali air
putih) selama 12 jam sebelum pengambilan darah. Beberapa obat tertentu mungkin
dihindari atau dihentikan konsumsinya, kecuali dokter tetap menganjurkan
mengonsumsi obat atau kondisis kesehatan tidak memungkinkan (informasikan hal
ini kepada petugas laboratorium).
2).
Persiapan Sampel: Serum, Plasma Heparin.
3).
Prinsip: Menggunakan derivate dari luminol dengan peroksida dan H2O2
(atau aystem enzimatik lainnya yang menghasilkan H2O2 seperti
oksidase glukosa atau uricase) ditambah penambah (turunan dari fenol, seperti
(piodofenol), yang meningkatkan emisi cahaya sampai 2.800 kali.
4). Alat dan Bahan:
a.
Alat
·
Mikropipet
·
Sentrifuge
·
Mikroplate Reader Set
a. Bahan
·
Serum/Plasma
·
Tabung EDTA
·
Larutan Biotin Antibodi
5).
Metode: Chemiluminescence
B. Analitik
1)
Darah
vena yang telah diperoleh kemdian dimasukkan kedalam tabung yang menggunakan
EDTA
2)
Untuk
mendapatkan plasma, darah di sentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 1000xg
pada suhu 2-80 dalamwaktu 30 menit
3)
Dipipet
plasma pada control sebanyak 50 µL, dipipet ke dalam microplate. Segera
tambahkan well microplate masing-masing dengan 50 µL larutan Biotin Antibodi.
4)
Inkubasi
selama 45 menit pada suhu 370C kemudian homogenkan hingga terlihat
seragam
5)
Setiap
well di cuci 3 kali dalam wadah buffer sebanyak 350 µL, lalu buang cairan dalam
well masing-masing weel ditentukan segara dengan menggunakan microplate reader
set pada panjang gelombang 450nm.
C. Pasca Analitik
Nilai
rujukan: 300-400 mcg/hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar