MAKALAH
HEMATOLOGI III
“THALASEMIA”

DISUSUN OLEH
NAMA : ROSYINTA MUIM
NIM :
18 3145 353 103
KELAS : 2018 C
PROGRAM
STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGA REZKY
MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaiukum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul “Thalasemia” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Hematologi III. Selain itu,
makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan
juga bagi penulis.
Saya menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi
kesempurnaan makalah ini.
Wassalamualaikum Warrahmatulahi
Wabarakatu
Makassar,
17 April 2020
Penyusun
Rosyinta Muim
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Thalasemia adalah
penyakit genetik yang menyebabkan kelainan sel darah merah. Akibatnya, anak
selalu kekeurangan darah (anemia) yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin. Pada
thalasemia yang berat, anak harus melakukan tranfusi darah seumur hidupnya
(Adji, 2007).
Thalassemia
merupakan kelainan genetik terbanyak di dunia. Kelainan ini diturunkan secara
resesif menurut hukum Mendel. Penyakit yang semula ditemukan di sekitar Laut
Tengah ini ternyata tersebar luas sepanjang garis khatulistiwa, termasuk
Indonesia. Tidak kurang dari 300.000 bayi dengan kelainan berat penyakit ini
dilahirkan setiap tahun di dunia, sedangkan jumlah penderita thalassemia heterosigotnya
tidak kurang dari 250 juta orang. Hingga saat ini belum ditemukan obat yang
dapat menyembuhkan penyakit tersebut (Iskandar, 2003).
Pengobatan
utama penyakit ini ialah pemberian transfusi darah dengan mempertahankan kadar
hemoglobin di atas 10 g/dl; tetapi ironisnya ialah bahwa jumlah zat besi yang
tertimbun dalam organ-organ tubuhnya akibat transfusi, menjadi salah satu
penyebab kematian. Penimbunan zat besi dalam organ-organ tubuh seperti hati,
jantung, kelenjar endokrin dan lain-lain, menyebabkan gangguan fungsi organ tersebut.
Gangguan fungsi organ mulai tampak pada anakanak yang telah mendapat banyak
transfusi darah yaitu anak-anak yang berumur 5 th ke atas (Iskandar, 2003).
B.
Rumusan
masalah
1.
Apa itu Thalasemia?
2.
Apa saja klasifikasi dari Thalasemia?
3.
Bagaimana patofisiologi dari penyakit
Thalasemia?
4.
Bagaimana alur diagnostik Thalasemia?
5.
Bagaimana cara diagnosis Thalasemia?
C.
Tujuan
1.
Tujuan Umum
Mampu memahami secara umum
tentang Thalasemia.
2.
Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui definisi Thalasemia.
b.
Untuk mengetahui klasifikasi dari
Thalasemia.
c.
Untuk mengetahui patofisiologi dari
penyakit Thalasemia.
d.
Untuk mengatahui alur diagnostik
Thalasemia
e.
Untuk mengetahui diagnosis dari
Thalasemia.
BAB II
ISI
A. Definisi
Thalasemia
Thalasemia atau
anemia cooley merupakan penyakit herediter yang disertai anemia hemolitik oleh
kelainan intrakospukuler yang disifatkan oleh kelainan hematologik dan kelainan
pada tulang-tulang tertentu. Morfologi eritrosit menyatakan hiprochomia,
anisositosis, poikilositosis, polichromasia dan adanya sel-sel sasaran. Tulang tengkorak
menebal dan tulang-tulang kaki dan tangan menderita osteoporosis. Penyakit
Thalasemia mula-mula ditemukan di sekitar Laut Tengah dan menyebar sampai ke
negara-negara Asia (Rini dan Bernadinus, 2010).
B. Klasifikasi Thalasemia
Menurut
Wijaya pada tahun 2018, terdapat 2 tipe utama thalasemia, yaitu:
1.
Thalasemia alfa, penurunan
sintesis rantai alfa
Sindrom talasemia α
biasanya disebabkan oleh delesi gen globin pada kromosom 16. Oleh karena pada
keadaan normal terdapat empat salinan gen globin α, keparahan klinis dapat diklasifikasikan berdasarkan
jumlah gen yang tidak ada atau tidak aktif. Jenis thalasemia alfa berdasarkan
jumlah gen yang tidak ada Thalasemia ß, yaitu:
a.
Mutasi empat gen (talasemia α mayor). Hilangnya keempat gen menekan sintesis rantai α secara keseluruhan dan karena rantai α esensial pada hemoglobin janin dan dewasa, keadaan ini
menyebabkan kematian dalam rahim
(hidrops fetalis).
b.
Mutasi tiga gen (penyakit Hb
H). Delesi tiga gen a menyebabkan anemia mikrositik hipokromik dengan tingkat
keparahan sedang berat (hemoglobin 7-11 g/dL). Keadaan ini dikenal sebagai
penyakit Hb H karena hemoglobin H (ß4) dapat dideteksi dalam eritrosit
pasien-pasien ini dengan elektroforesis atau preparat retikulosit. Pada
kehidupan janin, ditemui Hb Barts (γ4).
c.
Mutasi dua gen. Pembawa
sifat (trait) talasemia α
disertai dengan anemia mikrositik ringan menyerupai defisiensi besi tetapi
dengan kapasitas peningkatan besi yang
normal dan kadar besi serum yang meningkat/normal.
d.
Mutasi satu gen (silent
carrier). Pembawa sifat (trait) talasemia α yang secara klinis
tidak tampak gejala, tanpa adanya mikrositosis atau anemia.
e.
Bentuk talasemia α non-delesi akibat mutasi titik yang menyebabkan disfungsi
gen atau mutasi yang menyebabkan terminasi translasi, menghasilkan suatu rantai
yang lebih panjang tetapi tidak stabil .
2.
Thalasemia beta, penurunan
sintesis rantai beta
Gen
globin ß terletak di lengan pendek kromosom 11. Thalasemia ß terjadi oleh
karena mutasi resesif dari satu atau dua rantai globin ß tunggal pada kromosom 11. Jenis thalasemia ß dibagi
menjadi 3, yaitu:
a.
Thalasemia ß mayor (Cooley’s
Anemia). Kedua gen mengalami mutasi sehingga tidak dapat memproduksi rantai
beta globin. Biasanya gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa
anemia yang berat.
b.
Thalasemia intermedia. Kedua
gen mengalami mutasi tetapi masih bisa memproduksi
sedikit rantai beta globin. Derajat anemia tergantung derajat mutasi gen yang terjadi.
c.
Thalasemia ß minor (trait).
Penderita memiliki satu gen normal dan satu gen yang bermutasi. Penderita
mungkin mengalami anemia mikrositik ringan (Wijaya, 2018).
C. Patofisiologi Thalasemia
Dalam
keadaan normal, HbF (fetal hemoglobin) yang terdiri dari dua rantai α dan dua rantai γ terdapat pada eritrosit janin mulai dari minggu keenam kehamilan. Kemudian
HbF mulai digantikan oleh HbA (adult hemoglobin) yang terdiri dari dua
rantai α dan dua rantai ß sejak sebelum
kelahiran. Rantai γ digantikan dengan rantai ß, berikatan dengan rantai α membentuk HbA. Reduksi dari rantai globin ß menyebabkan
penurunan sintesis dari HbA serta meningkatnya rantai globin α bebas. Hal ini menyebabkan terbentuknya eritrosit yang
hipokromik dan mikrositik (Wijaya, 2018).
Ketidakseimbangan
sintesis rantai globin α dan ß
mempengaruhi derajat thalasemia. Presipitat yang terbentuk dari akumulasi
rantai a membentuk badan inklusi pada eritrosit, menyebabkan kerusakan membran
eritrosit serta destruksidini eritroblas yang sedang berkembang di sumsum
tulang. Kerusakan membran menyebabkan imunoglobulin dan komplemen berikatan
dengan membran, memberi sinyal kepada makrofag untuk menyingkirkan prekursor
eritroid dan eritrosit yang rusak. Sel retikuloendotelial menyingkirkan
eritrosit abnormal dari limpa, hati, dan sumsum tulang sebelum masa hidupnya
berakhir, sehingga tercipta keadaan anemia hemolitik. Eritropoiesis yang tidak
efektif serta hemolisis inilah tanda utama dari talasemia ß (Wijaya, 2018).
Eritrosit
masih dapat mempertahankan produksi rantai γ, dimana rantai γ mampu berikatan
dengan rantai α bebas yang berlebihan
membentuk HbF. Karena pengikatan
tersebut, kadar rantai α bebas turun sehingga
mengurangi gejala penyakit dan menyediakan hemoglobin tambahan yang mampu
mengikat oksigen. Namun, kenaikan kadar HbF ini juga berakibat meningkatnya
afinitas oksigen yang mengakibatkan terjadinya hipoksia. Keadaan anemia beserta
hipoksia menstimulasi produksi eritropoietin. Eritropoietin merupakan sitokin
yang menginduksi eritropoiesis, menghambat apoptosis dan mengizinkan sel
progenitor eritroid berproliferasi. Eritropoiesis yang tidak efektif meningkat,
menyebabkan perluasan dan deformitas tulang (Wijaya, 2018).
Pada
pasien yang tidak rutin menjalani transfusi, terjadi peningkatan eritropoiesis
lebih dari normal. Akibatnya, terjadi hiperplasia sumsum tulang 15-30 kali
normal dengan manifestasi berupa fasies talasemia, penipisan korteks pada banyak
tulang dengan kecenderungan terjadinya fraktur, dan penonjolan tulang tengkorak
dengan penampakan “rambut berdiri/hair-on-end” pada foto sinar X. Fasies
thalasemia, atau disebut facies Cooley, khas pada talasemia akibat pembesaran
tulang tengkorak dan tulang wajah dengan bentuk muka mongoloid. Pembesaran
abdomen akibat pembesaran hati dan limpa terjadi karena destruksi eritrosit
yang berlebihan dan hemopoiesis ekstramedular. Hemolisis ini juga menyebabkan
ikterik (Wijaya, 2018).
Eritropoiesis
yang tidak efektif menghambat produksi hepcidin oleh hati. Hepcidin bertugas
menghambat absorpsi besi dan pelepasan besi dari makrofag serta hepatosit. Maka, pada talasemia beta
terjadi peningkatan absorpsi besi sertapelepasan besi dari makrofag, berakibat
penumpukan besi pada sirkulasi dan kemudian pada organ-organ. Besi disimpan
dalam jaringan dalam bentuk ferritin, yang kemudian terdegradasi menjadi
hemosiderin, sehingga pada talasemia beta kadar ferritin serta hemosiderin
meningkat (Wijaya, 2018).
D. Alur Diagnostik Thalasemia
Thalassemia
yang bergantung pada transfusi adalah pasien yang membutuhkan transfusi secara
teratur seumur hidup. Diagnosis thalassemia ditegakkan dengan berdasarkan
kriteria anamnesis, pemeriksaan fisis, dan laboratorium. Manifestasi klinis
thalassemia mayor umumnya sudah dapat dijumpai sejak usia 6 bulan.
1.
Anamnesis
a.
Pucat kronik; usia awitan
terjadinya pucat perlu ditanyakan.
b.
Pada thalassemia ß/HbE usia
awitan pucat umumnya didapatkan pada usia yang lebih tua.
c.
Riwayat transfusi berulang;
anemia pada thalassemia mayor memerlukan transfusi berkala.
d.
Riwayat keluarga dengan
thalassemia dan transfusi berulang.
e.
Perut buncit; perut tampak
buncit karena adanya hepatosplenomegali.
f.
Etnis dan suku tertentu;
angka kejadian thalassemia lebih tinggi pada ras Mediterania, Timur Tengah,
India, dan Asia Tenggara.
g.
Riwayat tumbuh kembang dan
pubertas terlambat.
2.
Pemeriksaan
Fisis
Beberapa karakteristik yang dapat ditemukan dari pemeriksaan fisis
pada anak dengan thalassemia yang bergantung transfusi adalah pucat, sklera
ikterik, facies Cooley (dahi menonjol, mata menyipit, jarak kedua mata
melebar, maksila hipertrofi, maloklusi gigi), hepatosplenomegali, gagal tumbuh,
gizi kurang, perawakan pendek, pubertas terlambat, dan hiperpigmentasi kulit.
3.
Laboratorium
a.
Darah
perifer lengkap (DPL), menyangkut Hb,
Indeks eritrosit, Retikulosit, sediaan apus darah tepi
b.
Analisis
hemoglobin, menyangkut High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dan Elektroforesis
hemoglobin
c.
Analisis
DNA, dimana pemeriksaan DNA dilakukan apabila telah transfusi darah
berulang, hasil skrining orangtua sesuai dengan pembawa sifat thalassemia,
hasil pemeriksaan esensial tidak khas (curiga ke arah thalassemia a delesi 1
gen atau mutasi titik) (Nila, 2018).

E. Diagnosis Thalasemia
1.
Diagnosis
Thalassemia Mayor
a.
Anamnesis
1)
Memiliki riwayat penyakit
keluarga yang anemia atau pasien Thalassemia
2)
Riwayat transfusi berulang (jika sudah
pernah transfusi sebelumnya)
3)
Pucat yang lama (kronis)
4)
Anak tampak kuning (ikterus)
5)
Riwayat mudah infeksi
6)
Perut membesar akibat hepatosplenomegali
7)
Pertumbuhan terhambat/pubertas terhambat
8)
Riwayat fraktur patologis
b.
Pemeriksaan Fisik
1)
Gizi Kurang
2)
Pucat
3)
Konjungtiva pucat
4)
Hiperpigmentasi: kulit berwarna
kehitaman
5)
Bentuk muka facies Cooley akibat adanya
maloklusi pada tulang maxilla
6)
Gangguan pertumbuhan (perawakan pendek)/
pubertas terhambat
7)
Bentuk muka yang asimetris (abnormal)
dengan ciritulang frontal menonjol, maxilla yang protrusi, dan tulang
wajah hipertropi
8)
Organomegali: Hepatosplenomegali
terutama splenomegaly
c.
Pemeriksaan penunjang
Menurut Aulia pada
tahun 2019, pemeriksaan laboratorium sederhana ditemukan saat:
1)
Kadar haemoglobin umumnya rendah
2)
MCV < Normal (< 8O fL): rerata
70,8 fL,(SB 8,9)
3)
MCH < Normal (< 27 pg): Rerata
24,1 pg, (SB 3,9)
4)
RDW tinggi: Rerata 26,8% (SB 9,5)
5)
Retikulosit sangat meningkat (>14,6)
6)
Jumlah eritrosit meningkat
7)
Dapat didapatkan sel darah berinti
8)
Foto rontgen
tengkorak: gambaran hair on end
menyerupai rambut berdiri potongan pendek, penipisan tulang korteks, pelebaran diploe.
2.
Diagnosis Thalassemia
Intermedia
a.
Gejala klinis
dan laboratorium sama dengan
pasien Thalassemia mayor, tetapi frekuensi
kebutuhan transfusi darah jarang
b.
Rerata Hb pra-transfusi 7,5 g/dl
c.
Umumnya Thalassemia heterozigot ganda
(-β/HbE, -αβ) atau Thalassemia-α (Aulia, 2019).
3.
Diagnosis Thalassemia Minor
a.
Anamnesis: memiliki riwayat keluarga
Thalassemia
b.
Pemeriksaan klinis: tanpa gejala
c.
Pemeriksaan Laboratorium sederhana,
dimana pada darah tepi lengkap:
1)
Hb normal atau sedikit rendahMCV dan MCH
rendah (< normal
2)
RDW Normal/ meningkat (relatif normal)
3)
Retikulosit meningkat
4)
Jumlah eritrosit meningkat
5)
Morfologi darah: mikrositik, hipokrom,
anisositosis, poikilositosis, ditemukan tear drops cell, elips dan sel
target (Aulia, 2019).
4.
Diagnosis Banding
Thalasemia didiagnosis banding dengan jenis thalassemia lainnya,
yang memberi gambaran klinis yang sama. Namun pada pemeriksaan elektroforesis
hemoglobin dapat diketahui jenis thalasemia α atau thalasemia ß. Pada talasemia α dengan hemoglobin H ditemukan jaundice dan
splenomegali. Adanya hepatomegali dan splenomegali merupakan salah satu tanda
dari anemia hemolitik dimana disertai adanya penurunan kadar hemoglobin
(Harahap, 2013).
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Thalasemia atau
anemia cooley merupakan penyakit herediter yang disertai anemia hemolitik oleh
kelainan intrakospukuler yang disifatkan oleh kelainan hematologik dan kelainan
pada tulang-tulang tertentu.
B. Saran
Bagi pembaca dan masyarakat sebaiknya harus menjaga
kesehatan lingkungan dan makanan
serta pola makan agar memenuhi kecukupan
akan
Fe pada tubuh kita sehingga
kita terhindar dari penyakit terlebih thalasemia.
DAFTAR PUSTAKA
Aulia. 2019. “Penyakit Thalasemia Mayor”. Jakarta: Blogger.
Harahap.
2013. Penatalaksanaan Pada pasien thalasemia”. Lampung: Jurnal Medula.
Moeljanto,
Rini Damayanti dan Wiryanta, Bernardinus T. Wahyu. 2011. “Khasiat dan Manfaat
Susu Kambing”. Jakarta: Gramedia.
Moeloek, Nila Farid. 2018. “Thalasemia”. Jakarta:
kementerian Kesehatan RI.
Suranto, Adji. 2007. “Terapi Madu”. Depok:
Penebar Swadaya.
Wahidiyat,
Iskandar. 2003. “Thalassemia dan Permasalahannya di Indonesia”. Jakarta: Sari
Pediatri.
Wijaya. 2018. “Thalasemia”. Surabaya: Jurnal
Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar