Kamis, 16 April 2020

Thalasemia


MAKALAH HEMATOLOGI III
“THALASEMIA”
                                   


DISUSUN OLEH
NAMA            : ROSYINTA MUIM
NIM                : 18 3145 353 103
KELAS           : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
                                                              2020



KATA PENGANTAR
Assalamualaiukum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul  “Thalasemia” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Hematologi III. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Saya menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Wassalamualaikum Warrahmatulahi Wabarakatu


                                                                                         Makassar, 17 April 2020
                                                                                       Penyusun



                                                                                      Rosyinta Muim











BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Thalasemia adalah penyakit genetik yang menyebabkan kelainan sel darah merah. Akibatnya, anak selalu kekeurangan darah (anemia) yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin. Pada thalasemia yang berat, anak harus melakukan tranfusi darah seumur hidupnya (Adji, 2007).
Thalassemia merupakan kelainan genetik terbanyak di dunia. Kelainan ini diturunkan secara resesif menurut hukum Mendel. Penyakit yang semula ditemukan di sekitar Laut Tengah ini ternyata tersebar luas sepanjang garis khatulistiwa, termasuk Indonesia. Tidak kurang dari 300.000 bayi dengan kelainan berat penyakit ini dilahirkan setiap tahun di dunia, sedangkan jumlah penderita thalassemia heterosigotnya tidak kurang dari 250 juta orang. Hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut (Iskandar, 2003).
Pengobatan utama penyakit ini ialah pemberian transfusi darah dengan mempertahankan kadar hemoglobin di atas 10 g/dl; tetapi ironisnya ialah bahwa jumlah zat besi yang tertimbun dalam organ-organ tubuhnya akibat transfusi, menjadi salah satu penyebab kematian. Penimbunan zat besi dalam organ-organ tubuh seperti hati, jantung, kelenjar endokrin dan lain-lain, menyebabkan gangguan fungsi organ tersebut. Gangguan fungsi organ mulai tampak pada anakanak yang telah mendapat banyak transfusi darah yaitu anak-anak yang berumur 5 th ke atas (Iskandar, 2003).
B.       Rumusan masalah
1.      Apa itu Thalasemia?
2.      Apa saja klasifikasi dari Thalasemia?
3.      Bagaimana patofisiologi dari penyakit Thalasemia?
4.      Bagaimana alur diagnostik Thalasemia?
5.      Bagaimana cara diagnosis Thalasemia?


C.      Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mampu memahami secara umum  tentang Thalasemia.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui definisi Thalasemia.
b.      Untuk mengetahui klasifikasi dari Thalasemia.
c.       Untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit Thalasemia.
d.      Untuk mengatahui alur diagnostik Thalasemia
e.       Untuk mengetahui diagnosis dari Thalasemia.






















BAB II
ISI
A.    Definisi Thalasemia
Thalasemia atau anemia cooley merupakan penyakit herediter yang disertai anemia hemolitik oleh kelainan intrakospukuler yang disifatkan oleh kelainan hematologik dan kelainan pada tulang-tulang tertentu. Morfologi eritrosit menyatakan hiprochomia, anisositosis, poikilositosis, polichromasia dan adanya sel-sel sasaran. Tulang tengkorak menebal dan tulang-tulang kaki dan tangan menderita osteoporosis. Penyakit Thalasemia mula-mula ditemukan di sekitar Laut Tengah dan menyebar sampai ke negara-negara Asia (Rini dan Bernadinus, 2010).
B.  Klasifikasi Thalasemia
Menurut Wijaya pada tahun 2018, terdapat 2 tipe utama thalasemia, yaitu:
1.      Thalasemia alfa, penurunan sintesis rantai alfa
Sindrom talasemia α biasanya disebabkan oleh delesi gen globin pada kromosom 16. Oleh karena pada keadaan normal terdapat empat salinan gen globin α, keparahan klinis dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah gen yang tidak ada atau tidak aktif. Jenis thalasemia alfa berdasarkan jumlah gen yang tidak ada Thalasemia ß, yaitu:
a.       Mutasi empat gen (talasemia α mayor). Hilangnya keempat gen  menekan sintesis rantai α secara keseluruhan dan karena rantai α esensial pada hemoglobin janin dan dewasa, keadaan ini menyebabkan  kematian dalam rahim (hidrops fetalis).
b.      Mutasi tiga gen (penyakit Hb H). Delesi tiga gen a menyebabkan anemia mikrositik hipokromik dengan tingkat keparahan sedang berat (hemoglobin 7-11 g/dL). Keadaan ini dikenal sebagai penyakit Hb H karena hemoglobin H (ß4) dapat dideteksi dalam eritrosit pasien-pasien ini dengan elektroforesis atau preparat retikulosit. Pada kehidupan janin, ditemui Hb Barts (γ4).
c.       Mutasi dua gen. Pembawa sifat (trait) talasemia α disertai dengan anemia mikrositik ringan menyerupai defisiensi besi tetapi dengan  kapasitas peningkatan besi yang normal dan kadar besi serum yang  meningkat/normal.
d.      Mutasi satu gen (silent carrier). Pembawa sifat (trait) talasemia α yang  secara klinis tidak tampak gejala, tanpa adanya mikrositosis atau anemia.
e.       Bentuk talasemia α non-delesi akibat mutasi titik yang menyebabkan disfungsi gen atau mutasi yang menyebabkan terminasi translasi, menghasilkan suatu rantai yang lebih panjang tetapi tidak stabil .
2.      Thalasemia beta, penurunan sintesis rantai beta
Gen globin ß terletak di lengan pendek kromosom 11. Thalasemia ß terjadi oleh karena mutasi resesif dari satu atau dua rantai globin ß tunggal  pada kromosom 11. Jenis thalasemia ß dibagi menjadi 3, yaitu:
a.       Thalasemia ß mayor (Cooley’s Anemia). Kedua gen mengalami mutasi sehingga tidak dapat memproduksi rantai beta globin. Biasanya gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa anemia yang berat.
b.      Thalasemia intermedia. Kedua gen mengalami mutasi tetapi masih bisa  memproduksi sedikit rantai beta globin. Derajat anemia tergantung  derajat mutasi gen yang terjadi.
c.       Thalasemia ß minor (trait). Penderita memiliki satu gen normal dan satu gen yang bermutasi. Penderita mungkin mengalami anemia mikrositik ringan (Wijaya, 2018).
C.  Patofisiologi Thalasemia
Dalam keadaan normal, HbF (fetal hemoglobin) yang terdiri dari dua rantai α dan dua rantai γ terdapat pada eritrosit janin  mulai dari minggu keenam kehamilan. Kemudian HbF mulai digantikan oleh HbA (adult hemoglobin) yang terdiri dari dua rantai α dan dua rantai ß sejak sebelum kelahiran. Rantai γ digantikan dengan rantai ß, berikatan dengan rantai α membentuk HbA. Reduksi dari rantai globin ß menyebabkan penurunan sintesis dari HbA serta meningkatnya rantai globin α bebas. Hal ini menyebabkan terbentuknya eritrosit yang hipokromik dan mikrositik (Wijaya, 2018).
Ketidakseimbangan sintesis rantai globin α dan ß mempengaruhi derajat thalasemia. Presipitat yang terbentuk dari akumulasi rantai a membentuk badan inklusi pada eritrosit, menyebabkan kerusakan membran eritrosit serta destruksidini eritroblas yang sedang berkembang di sumsum tulang. Kerusakan membran menyebabkan imunoglobulin dan komplemen berikatan dengan membran, memberi sinyal kepada makrofag untuk menyingkirkan prekursor eritroid dan eritrosit yang rusak. Sel retikuloendotelial menyingkirkan eritrosit abnormal dari limpa, hati, dan sumsum tulang sebelum masa hidupnya berakhir, sehingga tercipta keadaan anemia hemolitik. Eritropoiesis yang tidak efektif serta hemolisis inilah tanda utama dari talasemia ß (Wijaya, 2018).
Eritrosit masih dapat mempertahankan produksi rantai γ, dimana rantai γ mampu berikatan dengan rantai α bebas yang berlebihan membentuk HbF.  Karena pengikatan tersebut, kadar rantai α bebas turun sehingga mengurangi gejala penyakit dan menyediakan hemoglobin tambahan yang mampu mengikat oksigen. Namun, kenaikan kadar HbF ini juga berakibat meningkatnya afinitas oksigen yang mengakibatkan terjadinya hipoksia. Keadaan anemia beserta hipoksia menstimulasi produksi eritropoietin. Eritropoietin merupakan sitokin yang menginduksi eritropoiesis, menghambat apoptosis dan mengizinkan sel progenitor eritroid berproliferasi. Eritropoiesis yang tidak efektif meningkat, menyebabkan perluasan dan deformitas tulang  (Wijaya, 2018).
Pada pasien yang tidak rutin menjalani transfusi, terjadi peningkatan eritropoiesis lebih dari normal. Akibatnya, terjadi hiperplasia sumsum tulang 15-30 kali normal dengan manifestasi berupa fasies talasemia, penipisan korteks pada banyak tulang dengan kecenderungan terjadinya fraktur, dan penonjolan tulang tengkorak dengan penampakan “rambut berdiri/hair-on-end” pada foto sinar X. Fasies thalasemia, atau disebut facies Cooley, khas pada talasemia akibat pembesaran tulang tengkorak dan tulang wajah dengan bentuk muka mongoloid. Pembesaran abdomen akibat pembesaran hati dan limpa terjadi karena destruksi eritrosit yang berlebihan dan hemopoiesis ekstramedular. Hemolisis ini juga menyebabkan ikterik  (Wijaya, 2018).
Eritropoiesis yang tidak efektif menghambat produksi hepcidin oleh hati. Hepcidin bertugas menghambat absorpsi besi dan pelepasan besi dari makrofag  serta hepatosit. Maka, pada talasemia beta terjadi peningkatan absorpsi besi sertapelepasan besi dari makrofag, berakibat penumpukan besi pada sirkulasi dan kemudian pada organ-organ. Besi disimpan dalam jaringan dalam bentuk ferritin, yang kemudian terdegradasi menjadi hemosiderin, sehingga pada talasemia beta kadar ferritin serta hemosiderin meningkat  (Wijaya, 2018).
D.  Alur Diagnostik Thalasemia
Thalassemia yang bergantung pada transfusi adalah pasien yang membutuhkan transfusi secara teratur seumur hidup. Diagnosis thalassemia ditegakkan dengan berdasarkan kriteria anamnesis, pemeriksaan fisis, dan laboratorium. Manifestasi klinis thalassemia mayor umumnya sudah dapat dijumpai sejak usia 6 bulan.
1.      Anamnesis
a.       Pucat kronik; usia awitan terjadinya pucat perlu ditanyakan.
b.      Pada thalassemia ß/HbE usia awitan pucat umumnya didapatkan pada usia yang lebih tua.
c.       Riwayat transfusi berulang; anemia pada thalassemia mayor memerlukan transfusi berkala.
d.      Riwayat keluarga dengan thalassemia dan transfusi berulang.
e.       Perut buncit; perut tampak buncit karena adanya hepatosplenomegali.
f.       Etnis dan suku tertentu; angka kejadian thalassemia lebih tinggi pada ras Mediterania, Timur Tengah, India, dan Asia Tenggara.
g.      Riwayat tumbuh kembang dan pubertas terlambat.
2.      Pemeriksaan Fisis
Beberapa karakteristik yang dapat ditemukan dari pemeriksaan fisis pada anak dengan thalassemia yang bergantung transfusi adalah pucat, sklera ikterik, facies Cooley (dahi menonjol, mata menyipit, jarak kedua mata melebar, maksila hipertrofi, maloklusi gigi), hepatosplenomegali, gagal tumbuh, gizi kurang, perawakan pendek, pubertas terlambat, dan hiperpigmentasi kulit.
3.      Laboratorium
a.       Darah  perifer lengkap (DPL), menyangkut Hb, Indeks eritrosit, Retikulosit, sediaan apus darah tepi
b.      Analisis hemoglobin, menyangkut High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dan Elektroforesis hemoglobin
c.       Analisis DNA, dimana pemeriksaan DNA dilakukan apabila telah transfusi darah berulang, hasil skrining orangtua sesuai dengan pembawa sifat thalassemia, hasil pemeriksaan esensial tidak khas (curiga ke arah thalassemia a delesi 1 gen atau mutasi titik) (Nila, 2018).
E.  Diagnosis Thalasemia
1.      Diagnosis Thalassemia Mayor
a.       Anamnesis
1)      Memiliki riwayat  penyakit  keluarga  yang  anemia  atau pasien Thalassemia
2)      Riwayat transfusi berulang (jika sudah pernah transfusi sebelumnya)
3)      Pucat yang lama (kronis)
4)      Anak tampak kuning (ikterus)
5)      Riwayat mudah infeksi
6)      Perut membesar akibat hepatosplenomegali
7)      Pertumbuhan terhambat/pubertas terhambat
8)      Riwayat fraktur patologis
b.      Pemeriksaan Fisik
1)      Gizi Kurang
2)      Pucat
3)      Konjungtiva pucat
4)      Hiperpigmentasi: kulit berwarna kehitaman
5)      Bentuk muka facies Cooley akibat adanya maloklusi pada tulang maxilla
6)      Gangguan pertumbuhan (perawakan pendek)/ pubertas terhambat
7)      Bentuk muka yang asimetris (abnormal) dengan ciritulang frontal menonjol, maxilla yang  protrusi, dan tulang wajah hipertropi
8)      Organomegali: Hepatosplenomegali terutama splenomegaly
c.       Pemeriksaan penunjang
Menurut Aulia pada tahun 2019, pemeriksaan laboratorium sederhana ditemukan saat:
1)         Kadar haemoglobin umumnya rendah
2)         MCV < Normal (< 8O fL): rerata 70,8 fL,(SB 8,9)
3)         MCH < Normal (< 27 pg): Rerata 24,1 pg, (SB 3,9)
4)         RDW tinggi: Rerata 26,8% (SB 9,5)
5)         Retikulosit sangat meningkat (>14,6)
6)         Jumlah eritrosit meningkat
7)         Dapat didapatkan sel darah berinti
8)         Foto   rontgen   tengkorak:   gambaran   hair   on   end menyerupai rambut berdiri potongan pendek, penipisan tulang korteks, pelebaran diploe.

2.      Diagnosis Thalassemia Intermedia
a.    Gejala klinis   dan   laboratorium   sama   dengan   pasien Thalassemia  mayor,   tetapi  frekuensi  kebutuhan  transfusi darah jarang
b.    Rerata Hb pra-transfusi 7,5 g/dl
c.    Umumnya Thalassemia heterozigot ganda (-β/HbE, -αβ) atau Thalassemia-α (Aulia, 2019).
3.      Diagnosis Thalassemia Minor
a.       Anamnesis: memiliki riwayat keluarga Thalassemia
b.      Pemeriksaan klinis: tanpa gejala
c.       Pemeriksaan Laboratorium sederhana, dimana pada darah tepi lengkap:
1)      Hb normal atau sedikit rendahMCV dan MCH rendah (< normal
2)      RDW Normal/ meningkat (relatif normal)
3)      Retikulosit meningkat
4)      Jumlah eritrosit meningkat
5)      Morfologi darah: mikrositik, hipokrom, anisositosis, poikilositosis, ditemukan tear drops  cell, elips dan sel target (Aulia, 2019).
4.      Diagnosis Banding
Thalasemia didiagnosis banding dengan jenis thalassemia lainnya, yang memberi gambaran klinis yang sama. Namun pada pemeriksaan elektroforesis hemoglobin dapat diketahui jenis thalasemia α atau thalasemia ß. Pada talasemia α dengan hemoglobin H ditemukan jaundice dan splenomegali. Adanya hepatomegali dan splenomegali merupakan salah satu tanda dari anemia hemolitik dimana disertai adanya penurunan kadar hemoglobin (Harahap, 2013).







BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
Thalasemia atau anemia cooley merupakan penyakit herediter yang disertai anemia hemolitik oleh kelainan intrakospukuler yang disifatkan oleh kelainan hematologik dan kelainan pada tulang-tulang tertentu.
B.  Saran
Bagi pembaca dan masyarakat sebaiknya harus menjaga kesehatan lingkungan dan makanan serta pola makan agar memenuhi kecukupan akan Fe pada tubuh kita sehingga kita terhindar dari penyakit terlebih thalasemia.





















DAFTAR PUSTAKA
Aulia. 2019. “Penyakit Thalasemia Mayor”. Jakarta: Blogger.
Harahap. 2013. Penatalaksanaan Pada pasien thalasemia”. Lampung: Jurnal Medula.

Moeljanto, Rini Damayanti dan Wiryanta, Bernardinus T. Wahyu. 2011. “Khasiat dan Manfaat Susu Kambing”. Jakarta: Gramedia.

Moeloek, Nila Farid. 2018. “Thalasemia”. Jakarta: kementerian Kesehatan RI.
Suranto, Adji. 2007. “Terapi Madu”. Depok: Penebar Swadaya.
Wahidiyat, Iskandar. 2003. “Thalassemia dan Permasalahannya di Indonesia”. Jakarta: Sari Pediatri.

Wijaya. 2018. “Thalasemia”. Surabaya: Jurnal Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar