Jumat, 24 April 2020

Laporan Darah Rutin


LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
PEMERIKSAAN TES DARAH RUTIN MENGGUNAKAN ALAT AUTOMATIC


NAMA            : ROSYINTA MUIM
NIM                : 18 3145 353 103
KELAS           : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
                                                                 2020           




BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR  BELAKANG
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung hemogoblin terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit (sel darah putih) satuan pertahanan sistem imun, diangkut dalam darah tempat cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit penting dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang cedera. Jika darah mengalami gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh akan terganggu pula (Khairil dan Sutikno, 2016).
Menurut Made pada tahun, 2016, darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu:
1.    Plasma darah, bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah.
2.    Butir- butir darah (Blood Corpucles), yang terdiri atas, eritrosit sel darh merah (SDM) –red blood cell (RBC) dan lekosit sel darah putih (SDP)- white blood cell (WBC) dan trombosit butir pembeku platelet.
Pemeriksaan darah lengkap biasanya yang diperiksa adalah jumlah sel darah merah, sel darah putih, leukosit, trombosit dan lain-lain. Jumlah sel dihitung untuk mengetahui apakah pasien juga menderita anemia atau tidak. Sedangkan leukosit untuk melihat sistem imun pasien. Bila kadar leukosit di atas normal, berarti ada penyakit infeksi yang sedang menyerang pasien (Alfred, 2011).
Oleh karena itu, dilakukanlah pemeriksaan darah rutin, dimana untuk mengetahui apakah ada penyakit atau infeksi dari pencerminan reaksi tubuh dan sebagai penunjang atau tes penyaring dalam membantu diagnosa suatu penyakit.
B.  TUJUAN
Untuk mengukur dan menghitung sel darah secara otomatis berdasarkan impedansi aliran listrik atau berkas cahaya terhadap sel-sel yang dilewatkan.




























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup mulai dari binatang primitive sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen, (Oxygen Carrier), mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, serta  mekanisme hemostatis (Eni dan Hj RR, 2015).
Darah adalah salah satu bagian tubuh yang paling mendapat perhatian dan penghargaan yang tinggi. Darah umumnya dipandang sebagai cairan tubuh yang kental, berwarna merah dan tidak transparan serta berada dalam suaturuangan tertutup yang dinamai sebagai sistme pembuluh darah (Mohammad, 2014).
Darah adalah jaringan tubuh yang yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sitem tertutup yang dinmakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transport berbagai bahan serta fungsi homeostasis (Mohammad, 2014).
Volume darah manusia yaitu sekitar 6-8% dari berat tubuh. darah berfungsi sebagai pengangkut zat-zat makanan hasil metabolisme tubuh, mengangkut oksigen dan karbondioksida yang dihailkan oleh paru-paru, serta untuk mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Pemeriksaan yang sering dilakukan pada pemeriksaan darah rutin yaitu (Eko, 2008):
1.    Hemoglobin atau Hb, merupakan salaha satu dari sekian banyak tolak ukur dalam diagnosis anemia. Hemoglobin adalah suatu protein yang berada di dalam darah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen.
2.    Eritrosit atau sel darah merah, merupakan bagian darah dengan komposisi terbanyak di dalam darah. Fungsinya yaitu sebagai tempat metabolisme makanan untuk dapat menghasilkan energi serta mengangkut O2 dan CO2. Pada pemeriksaan lanjutan, biasanya akan melampirkan nilai ideks eritrosit yaitu MCV, MCH dan MCHC.
3.    Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC). Pemeriksaan ini dijadikan indikator untuk melihat kadar anemia seseorang. MCV atau Mean Corpuscular Volume digunakan untuk mengukur indeks volume eritrosit dalam darah. MCH atau Mean Corpuscular Haemoglobin digunakan untuk mengukur indeks warna pada eritrosit dalam darah. Sedangkan MCHC atau Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration digunakan untuk mengukur indeks saturasi eritrosit dalam darah.
4.    Leukosit atau sel darah putih, mengandung unsur-unsur darah seperti basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit dan monosit. Keadaan dimana leukosit meninggi disebut leukositosis, dimana dapat disebabkan oleh penyakit seperti leukemia. Seangkan keadaan dimana kadar leukosit rendah disebut leukopeni, disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu seperti kanker, keracunan benzen, anemia, infeksi kronis, faktor keturunan dan lain sebagainya.
5.    Hematokrit atau Ht merupakan perbandingan antarfa proporsi volume sampel darah dengan sel darah merah yang diukur dalam satuan milimeter per desiliter.
6.    Trombosit berfungsi sebagai salah satu zat pembeku darah. Trombosit dapat menurun disebabkan penyakit DBD ataupun kelainan bawaan sehingga menyebabkan perdarahan pada kulit. Trombosit dapat meninggi pada penyakit leukemia, polisitemia vera, lupus dan lain sebagainya.
7.    Laju endap darah (LED), merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat kecepatan darah dalam membentuk endapan. Laju endap darah dapat meningkat akibat cedera, peradangan, kehamilan, infeksi kronis seperti TBC dan sebagainya. LED dapat menutun akibat kelainan sel-sel darah merah seperti polisitemia vera yaitu suatu penyakit dimana sel darah merah sangat benyak sehingga darah menjadi sangat kental. Pemeriksaan LED berguna untuk mendeteksi adanya suatu peradangan bahkan perjalanan atau aktivitas suatu penyakit.
8.    Hitung jenis leukosit, menyangkut basofil, eosinofil, neutrofil (batang dan segmen), monosit dan limfosit.besarnya kadar zat-zat penyusun leukosit ini dinyatakan dalam persen. Biasanya, persentase tertinggi yaitu neutrofil segmen dan limfosit, sementara persentase terendah yaitu eosinofil, basofil dan monosit. Eosinofil meningkat pada keadaan infeksi kronis seperti cacingan, keracunan dan perdarahan. Limfosit dan monosit dapat meningkat pada keadaan penyakit hari dan anemia kronis (Eko, 2008).
Hasil pemeriksaan laboratorium merupakan informasi yang berharga untuk membedakan diagnosis, mengkonfi rmasi diagnosis, menilai status klinik pasien, mengevaluasi efektivitas terapi dan munculnya reaksi obat yang tidak diinginkan. Interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk (Engko, 2011).
1.    Menilai kesesuaian terapi (contoh: indikasi obat, ketepatan pemilihan obat,  kontraindikasi obat, penyesuaian dosis obat, risiko interaksi obat)
2.    Menilai efektivitas terapi (contoh: efektivitas pemberian kalium diketahui melalui kadar kalium dalam darah, efektivitas warfarin diketahui melalui pemeriksaan INR
3.    Efektifi tas allopurinol di ketahui dari menurunnya kadar asam urat
4.    Mendeteksi dan mencegah reaksi obat yang tidak dikehendaki (contoh: penurunan dosis siprofl oksasin hingga 50% pada kondisi klirens kreatinin <30mL/menit)
5.    Menilai kepatuhan penggunaan obat (contoh: kepatuhan pasien dalam menggunakan obat antidiabetik oral diketahui dari nilai HbA1c, kepatuhan penggunaan statin diketahui dari kadar kolesterol darah)
6.    Mencegah interpretasi  yang salah terhadap hasil pemeriksaan. 
Menurut Engko pada tahun 2011, hasil pemeriksaan laboratorium dapat dipengaruhi oleh banyak faktor terdiri atas:
· Faktor terkait pasien atau laboratorium, antara lain: Umur, jenis kelamin, ras, genetik, tinggi badan, berat badan, kondisi klinik, status nutrisi dan  penggunaan obat.
· Faktor terkait laboratorium antara lain: Cara pengambilan spesimen, penanganan spesimen, waktu pengambilan, metode analisis, kualitas spesimen, jenis alat dan teknik pengukuran.
Kesalahan terkait hasil laboratorium patut dicurigai jika ditemukan tingkat kesalahan pembacaan yang sangat besar dari hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan gejala dan tanda klinik pasien. Nilai klinik pemeriksaan laboratorium tergantung pada sensitifitas, spesifisitas dan akurasi. Sensitifitas menggambarkan kepekaan tes, spesifisitas menggambarkan kemampuan membedakan penyakit/gangguan fungsi organ,  sedangkan akurasi adalah ukuran ketepatan pemeriksaan (Engko, 2011).
Pemeriksaan laboratorium dapat dikelompokkan sebagai pemeriksaan penapisan (screening) dan pemeriksaan diagnostik.  Pemeriksaan penapisan dimaksudkan untuk mendeteksi adanya suatu penyakit sedini mungkin agar intervensi dapat dilakukan lebih efektif.  Umumnya pemeriksaan penapisan relatif sederhana dan mempunyai kepekaan tinggi. Pemeriksaan diagnostik dilakukan pada pasien yang memiliki gejala, tanda klinik, riwayat penyakit atau nilai pemeriksaan penapisan yang abnormal. Pemeriksaan diagnostik ini cenderung lebih rumit dan spesifi k untuk pasien secara individual (Engko, 2011).





















BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Pra Analitik
1.    Persiapan Pasien: Tidak memerlukan persiapan khusus.
2.    Persiapan Sampel:
a.       Sampel darah EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam
b.      Sampel darah disimpan 24 jam di dalam kulkas dengan suhu 40 0C
c.       Anamnesis perlu diperhatikan riwayat perdarahan, obat yang diminum dan transfusi darah.
3.    Prinsip Percobaan: Adapun prinsip dari pemeriksaan trombosit cara langsung yaitu jumlah trombosit dihitung dalam 1000 eritroit pada hapusan darah dengan cara dibandingkan dengan jumlah eritrosit dalam 1 mm3 darah.
4.    Alat dan Bahan
a.    Alat
1)      Tabung Reaksi
2)      Automatic Hematology Analyzer
b.    Bahan
1)      Sampel darah EDTA
2)      Reagen:
·      Reagen diluent digunakan pada proses perhitungan sel darah dan hitung jenis sel.
·      Reagen bilyse digunakan untuk melisiskan sel-sel darah dan menentukan konsentrasi Hb.
·      Reagen cleaner digunakan sebagai bahan pembersih.
B.  Analitik
Prosedur Kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Dihidupkan UPS, ditekan main power yang terletak pada bagian belakang alat, sehingga lampu indikator main power menyala.
3.    Ditekan tombol power yang terdapat pada bagian depan alat, alat akan secara otomatis melakukan cleaning dan priming.
4.    Ditunggu sampai alat siap digunakan.
5.    Dilakukan pembacaan kontrol.
6.    Dimasukkan data pasien pada computer/display lalu dikirim data tersebut ke alat.
7.    Dipastikan darah tidak menggumpal pada tabung dan dimasukkan sampel pada rak tabung sesuai data pasien yang telah diinput, kemudian tekan tombol start dan akan dilakukan analisa oleh alat.
8.    Hasil akan dikeluarkan dalam bentuk print out.
C.  Pasca Analitik
1.      Eritrosit
Wanita                         : 4 juta-5 juta/ul darah
Pria                              : 4,5 juta-5,5 juta/ul darah
2.      Hemoglobin
Wanita                         : 12-14 g/dl
Pria                              : 14-16 g/dl
3.      Hematokrit
Wanita                         : 38-46%
Pria                              : 40-54%
4.      Leukosit                      : 5 juta-1 juta/ul darah
5.      Trombosit                    : 150.000-400.0004/ul darah
6.      Laju endap darah
Wanita                         : <15
Pria                              : <10
7.      Indeks eritrosit
MCH                           : 7-31 pg
MCV                           : 80-96 fl
MCHC                                    : 32-36 g/dl
8.      Jenis-Jenis Leukosit
Eosinofil                      : 2-4%
Basofil                         : 0-2%
Monosit                       : 4-8% 
Neutrofil Batang         : 0-10%
Neutrofil Segmen        : 51-67%
Limfosit                      : 21-35%


























BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum yang dilakukan tentang pemeriksaan darah rutin menggunakan alat Haemotology analyzer untuk mengukur dan menghitung sel darah secara otomatis berdasarkan impedansi aliran listrik atau berkas cahaya terhadap sel-sel yang dilewatkan.
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Pemeriksaan darah lengkap biasanya yang diperiksa adalah jumlah sel darah merah, sel darah putih, leukosit, trombosit, hematokrit, hemoglobin, retikulosit, LED, indeks eritrosit dan jenis-jenis leukosit.
Adapun prinsip dari alat haemotology analyzer yaitu pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya.
Bagian alat haematology analyzer
1.    Bagian belakang, terdapat warna hijau untuk cairan diulent, warna biru untuk cairan rinse atau mencuci, warna orange untuk cairan liece, warna merah sebagai outlet untuk cairan pembuangan.
2.    Bagian samping, ada pararel (port warna ungu), untuk mengambil atau mengirim data ke komputer, port RS232 (port bagian atas), digunakan untuk scanner, port 232 (port bagian bawah), bisa digunakan untuk menghubungkan ke komputer dan port hitam bulat digunakan untuk copy disk drive atau bisa dihubungkan dengan mouse dan keyboard.
3.    Pada layar, ada F1, untuk melanjutkan ke proses berikutnya, F2, untuk unlock jika kita ingin menguji, F3, untuk start up atau menghidupkan secara cepat, F5 ada tombol atas bawah.
Adapun prosedur dari pemeriksaan darah rutin yaiu pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Kemudian dihidupkan UPS, ditekan main power yang terletak pada bagian belakang alat, sehingga lampu indikator main power menyala. Setelah itu, ditekan tombol power yang terdapat pada bagian depan alat, alat akan secara otomatis melakukan cleaning dan priming. Kemudian ditunggu sampai alat siap digunakan. Setelah itu dilakukan pembacaan kontrol dan dimasukkan data pasien pada computer/display lalu dikirim data tersebut ke alat. Kemudian pastikan darah tidak menggumpal pada tabung dan dimasukkan sampel pada rak tabung sesuai data pasien yang telah diinput, setelah itu tekan tombol start dan akan dilakukan analisa oleh alat. Kemudian hasil akan dikeluarkan dalam bentuk print out.
Hasil yang didapatkan yaitu:
1.    Leukosit     : 10 ribu/ul darah
2.    Eritrosit      : 5,13 juta/ul darah
3.    Haemoglobin          : 14,8 g/dl
4.    Haemotokrit           : 42,5 %
5.    MCV                      : 82,8 fl
6.    MCH                      : 28,8 pg
7.    MCHC                   : 34,8 g/dl
8.    Trombosit               : 59 ribu/ul darah
9.    RDW                      : 12,9 %
10.    PDW                      : 21,1 fl
11.    MPV                       : 11,4 fl
12.    P-LCR                    : 37,4 %
13.    Neutrofil batang     : 0,00 %
14.    Neutorfil segmen    : 0,00 %
15.    Limfosit                  : 38%
16.    MXD                      : 0,00 %
Histogram (pemacaan grafik), dimana pada leukosit mxdnya (basofil, eosinofil dan monosit) tidak terbaca dan neutrofilnya rendah. Pada eritrosit, berada dalam batas normal karena puncak ujung dari grafiknya menandakan sel-selnya paling terbanyak. Pada trombosit, terlihat lebar dimana selnya bervariasi  dimana ada platelet kecil, ada platelet besar dan platelet besar sekali (giant) dilihat dari distribusinya. 


Hasil pemeriksaan laboratorium dapat dipengaruhi oleh banyak faktor terdiri atas:
·      Faktor terkait pasien atau laboratorium, antara lain: Umur, jenis kelamin, ras, genetik, tinggi badan, berat badan, kondisi klinik, status nutrisi dan  penggunaan obat.
·      Faktor terkait laboratorium antara lain: Cara pengambilan spesimen, penanganan spesimen, waktu pengambilan, metode analisis, kualitas spesimen, jenis alat dan teknik pengukuran.
Kesalahan terkait hasil laboratorium patut dicurigai jika ditemukan tingkat kesalahan pembacaan yang sangat besar dari hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan gejala dan tanda klinik pasien. Nilai klinik pemeriksaan laboratorium tergantung pada sensitifitas, spesifisitas dan akurasi. Sensitifitas menggambarkan kepekaan tes, spesifisitas menggambarkan kemampuan membedakan penyakit/gangguan fungsi organ,  sedangkan akurasi adalah ukuran ketepatan pemeriksaan.
Ada 2 metode yang digunakan untuk pemeriksaan darah rutin, yaitu secara manual dan dengan menggunakan alat misalnya hematology analyzer. Masing-masing dari cara ini mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dimana jika secara manual maka membutuhkan waktu yang lama sedangkan jika menggunakan alat maka membutuhkan waktu yang cepat namun sel-sel yang rusak tidak terhitung sehingga hasilnya kurang maksimal.










BAB V
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil yang didapatkan yaitu normal dimana pada bagian RBC, WBC dan PLT semuanya di amabng batas normal, kecuali jenis leukosit yang tidak dapat terbaca oleh alat sehingga harus dilakukan pemeriksaan manual untuk jenis leukosit.
B.  SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya juga selalu menggunakan APD pada saat sedang berada di dalam laboratorium.


















DAFTAR PUSTAKA
Barta, Made. 2017. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC
Bastiansyah, Eko. 2008. “Panduan Lengkap membaca Hasil Tes Kesehatan”. Depok: Penebar Plus.

Fitriyadi, K dan Sutikno. 2016. Pengenalan Jenis Golongan Darah Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron. Semarang: Jurnal Masyarakat Informatika.

Krisnawati, Eni dan Hardisari Hj RR. 2016. Perbandingan Hitung Jumlah Trombosit Meggunakan Alat Haemotologi Analyzer dengan Cara Manual (Fonio) di Laboratorium RSUP Dr Soeradji  Tritonegoro Klaten. Yogyakarta: Jurnal Teknologi Laboratorium.

Sadikin, Mohammad. 2014. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika.
Sosialine, Engko. 2011. “Pedoman Interpretasi Data Klinik”. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Sutrisno, Alfred. 2011. “Stroke”. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar