Rabu, 29 April 2020

Laporan Pemeriksaan Retikulosit


LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

IMG-20190326-WA0004

NAMA            : ROSYINTA MUIM
NIM                : 18 3145 353 103
KELAS           : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
                                                                 2020           





BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR  BELAKANG
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung hemogoblin terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit (sel darah putih) satuan pertahanan sistem imun, diangkut dalam darah tempat cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit penting dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang cedera. Jika darah mengalami gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh akan terganggu pula (Khairil dan Sutikno, 2016).
Menurut Made pada tahun, 2016, darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu:
1.    Plasma darah, bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah.
2.    Butir- butir darah (Blood Corpucles), yang terdiri atas, eritrosit sel darh merah (SDM) –red blood cell (RBC) dan lekosit sel darah putih (SDP)- white blood cell (WBC) dan trombosit butir pembeku platelet.
Retikulosit merupakan parameter yang umum digunakan sebagai penentu keberhasilan terapi pada anemia defisiensi besi, yang menunjukkan respon fisiologis tubuh dengan meningkatkan produksi sel darah merah. Anemia defisiensi besi merupakan masalah yang yang paling lazim di dunia dan menjangkit lebih dari 600 juta remaja. Di Indonesia anemia defisiensi besi pada remaja putri merupakan salah satu masalah gizi yang  harus ditangani secara serius. Anemia defisiensi besi di Indonesia menjadi masalah kesehatan dengan prevelensi lebih dari 15% (Zefika dan Lucia, 2019).
Oleh karena itu, dilakukanlah pemeriksaan retikulosit, dimana untuk mengetahui adanya anemia defisiensi zat besi pada seseorang.
B.  TUJUAN
Untuk mengukur dan menghitung jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu dengan menggunakan metode supravital staining.




























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup mulai dari binatang primitive sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen, (Oxygen Carrier), mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, serta  mekanisme hemostatis (Eni dan Hj RR, 2015).
Darah adalah salah satu bagian tubuh yang paling mendapat perhatian dan penghargaan yang tinggi. Darah umumnya dipandang sebagai cairan tubuh yang kental, berwarna merah dan tidak transparan serta berada dalam suaturuangan tertutup yang dinamai sebagai sistme pembuluh darah (Mohammad, 2014).
Darah adalah jaringan tubuh yang yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sitem tertutup yang dinmakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transport berbagai bahan serta fungsi homeostasis (Mohammad, 2014).
Volume darah manusia yaitu sekitar 6-8% dari berat tubuh. Darah berfungsi sebagai pengangkut zat-zat makanan hasil metabolisme tubuh, mengangkut oksigen dan karbondioksida yang dihasilkan oleh paru-paru, serta untuk mempertahankan sistem kekebalan tubuh (Eko, 2008).
Retikulosit adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan  berasal dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan  organela basolik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang dapat berupa endapan dan berwarna biru apabila dicat dengan pengecatan  biru metilin. Retikulosit akan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit (Ketut, 2012).
Pada orang dewasa, sekitar 2 juta sel darah merah baru diproduksi setiap detik. Seiring dengan pematangan sel, diperlukan waktu beberapa hari untuk sel berisi hemoglobin ini menyingkirkan sisa RNA sitoplasma setelah nukleus dikeluarkan. Retikulosit ini sering dapat dibedakan pada apusan darah yang diwarnai Wright karena ukurannya yang besar dan warnanya keabu-abuan atau ungu. Retikulosit biasanya berada di darah selama 24 jam sebelum mengeluarkan sisa RNA dan menjadi sel darah merah. Apabila retikulosit dilepaskan secara dini dari sumsum tulang, retikulosit imatur dapat berada di sirkulasi selama 2-3 hari. Pada pasien tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara 1-2%. Jumlah ini penting karena dapat digunakan sebagai indikator produktivitas dan aktivitas eritropoiesis di sumsum tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi (Zefika dan Lucia, 2019).
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi, lingkungan dan status kesehatan. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit cacing. Kekurangan zat besi menimbulkan gangguan atau hambatan dalam pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Hingga saat ini pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan ditujukan khususnya pada ibu hamil sedangkan pada remaja putri jarang diperhatikan. Anemia dapat dicegah maka konsumsi makanan yang kaya zat besi perlu dilakukan dan juga diimbangi dengan pemberian tablet zat besi (Fe) (Zefika dan Lucia, 2019).
Retikulosit merupakan parameter yang umum digunakan untuk menilai keberhasilan terapi besi pada anemia defisiensi besi. Hitung retikulosit yang meningkat pada kadar hemoglobin yang normal menunjukkan bahwa sel darah merah sedang mengalami kerusakan atau hilang, tetapi sumsum tulang telah meningkatkan produksi eritrosit untuk mengkompensasi kebutuhan tubuh. Pada kadar hemoglobin yang rendah, hitung retikulosit 0,5% sampai 2,5% mengisyaratkan bahwa respon terhadap anemia tidak memadai. Hal ini dapat terjadi akibat gangguan atau penurunan produksi sumsum tulang atau penurunan kadar eritropoietin. Apabila seseorang mengidap anemia, jumlah eritrosit yang beredar turun sehingga presentasi retikulosit “normal" (0,5%2,5%) akan meningkat. Pada defisiensi besi, terutama pada anemia akibat pengeluaran darah berkepanjangan, pemberian terapi besi menghasilkan respons retikulosit dalam 4 sampai 7 hari. Beberapa literatur menyebutkan kadar maksimal retikulosit tercapai pada hari ke 5-7 setelah terapi (Zefika dan Lucia, 2019).
Pemeriksaan retikulosit bermanfaat untuk menilai respon sumsum tulang terhadap anemia. Hitung retikulosit ditunjukkan dengan angka perbandingan antara jumlah retikulosit per eritrosit. Hitung retikulosit ini sangat dipengaruhi oleh berat ringannya anemia, oleh karena itu, untuk menentukan kondisi retikulosit yang sesungguhnya perlu perhitungan Indeks Retikulosit (IR) (Askandar dkk, 2015).
Indeks retikulosit lebih dari 2-3% menunjukkan respon yang adequat dan indeks retikulosit di bawah angka tersebut menunjukan anemia akiat kegagalan sumsum tulang. Hitung retikulosit normal antara 0,8-2,5% pada pria dan 0,8-4,1% paa wanita. Hitung retikulosit yang meningkat menunjukan adanya kemungkinan hemolisis, perdarahan akut atau recovery setelah pemberian B12, asam folat atau besi. Hitung retikulosit rendah dijumpai pada anemia akibat kegagalan sumsum tulang (Askandar dkk, 2015).
Hitung retikulosit dapat berupa persentasi dari sel darah merah, hitung retikulosit absolut, hitung retikulosit absolut terkoreksi atau reticulocyte production index. Hitung retikulosit harus dibandingkan dengan jumlah yang siproduksi pada penderita tanpa anemia (Ari, 2015).
Pemeriksaan laboratorium dapat dikelompokkan sebagai pemeriksaan penapisan (screening) dan pemeriksaan diagnostik.  Pemeriksaan penapisan dimaksudkan untuk mendeteksi adanya suatu penyakit sedini mungkin agar intervensi dapat dilakukan lebih efektif.  Umumnya pemeriksaan penapisan relatif sederhana dan mempunyai kepekaan tinggi. Pemeriksaan diagnostik dilakukan pada pasien yang memiliki gejala, tanda klinik, riwayat penyakit atau nilai pemeriksaan penapisan yang abnormal. Pemeriksaan diagnostik ini cenderung lebih rumit dan spesifik untuk pasien secara individual (Engko, 2011).




BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Pra Analitik
1.    Persiapan Pasien: Tidak memerlukan persiapan khusus.
2.    Persiapan Sampel: Sampel darah EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam dan disimpan 24 jam di dalam kulkas dengan suhu 40 0C jika belum langsung diperiksa.
3.    Prinsip Percobaan: Adapun prinsip dari pemeriksaan hitung retikulosit yaitu sel-sel darah dalam keadaan hidup ditambahkan larutan BCB selam beberapa menit. Kemudian dibuat sediaan apus tipis dan dihitung sel-sel retikulosit secara mikroskopik. Presentase retikulosit ditentukan terhadap sejumlah eritrosit.
4.    Alat dan Bahan
a.    Alat
1)      Tabung reaksi
2)      Objek glass
3)      Pipet tetes
4)      Rak tabung
5)      Stopwatch
6)      mikroskop
b.    Bahan
1)      Sampel darah EDTA
2)      Larutan Brilliant Cresyl Blue (BCB)
3)      Deck glass
4)      Oil emersi
B.  Analitik
Prosedur Kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Dimasukkan 3 tetes larutan Brilliant Cresyl Blue (BCB) ke dalam tabung reaksi.
3.    Ditambahkan 3 tetes darah EDTA kemudian dihomogenkan.
4.    Diinkubasi selama 15 menit.
5.    Diambil 1 tetes campuran tadi kemudian letakan di atas objek glass.
6.    Dibuat apusan darah.
7.    Diperiksa sediaan dengan pembesaran objektif 100x.
8.    Ditentukan berapa banyak retikulosit didalam 1000 eritrosit.
Perhitungan: Jumlah Retikulosit = N/1000 x 100%
C.  Pasca Analitik
Nilai normal: 0,5-1,5%
























BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum yang dilakukan tentang pemeriksaan hitung retikulosit untuk mengukur dan menghitung jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu menggunakan metode supravital staining.
Retikulosit merupakan parameter yang umum digunakan sebagai penentu keberhasilan terapi pada anemia defisiensi besi, yang menunjukkan respon fisiologis tubuh dengan meningkatkan produksi sel darah merah.
Adapun prinsip dari pemeriksaan hitung retikulosit yaitu sel-sel darah dalam keadaan hidup ditambahkan larutan BCB selam beberapa menit. Kemudian dibuat sediaan apus tipis dan dihitung sel-sel retikulosit secara mikroskopik. Presentase retikulosit ditentukan terhadap sejumlah eritrosit.
Adapun prosedur kerja dari pemeriksaan hitung retikulosit yaitu, pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dimana agar saat kita melakukan pemeriksaan kita tidak perlu bolak-balik mengambil alat atau bahan yang dibutuhkan serta untuk meminimalisir waktu pemeriksaan. Setelah itu dimasukkan 3 tetes larutan Brilliant Cresyl Blue (BCB) ke dalam tabung reaksi. Dimana fungsi dari larutan BCB ini yaitu sebagai larutan pengencer untuk menghitung jumlah retikulosit dan sebagai zat warna. Kemudian ditambahkan 3 tetes darah EDTA kemudian dihomogenkan. Diinkubasi selama 15 menit agar retikulosit dapat menyerap zat warna. Setelah itu diambil 1 tetes campuran tadi kemudian letakan di atas objek glass. Kemudian dibuat apusan darah dan periksa sediaan dengan pembesaran objektif 100x menggunakan oil emersi agar pengamatan terlihat jelas. Setelah itu ditentukan berapa banyak retikulosit didalam 1000 eritrosit menggunakan rumus perhitungan: Jumlah Retikulosit = N/1000 x 100%
Hasil yang didapatkan yaitu ditemukan retikulosit pada sediaan. Kesalahan yang dapat terjadi pada pemeriksaan retikulosit yaitu:
1.    Kesalahan dalam persiapan penderita, pengambilan dan penyimpanan bahan pemeriksaan.
2.    Sediaan apus terlalu biru memungkinkan disebabkan oleh apusan yang terlampau tebal, pewarnaan terlalu lama, kurang pencucian, zat warna atau larutan dapar yang alkalis.
3.    Sediaan apus terlalu merah mungkin disebabkan oleh sat warna sediaan atau larutan dapar yang asam. Larutan dapar yang terlalu asam dapat menyebabkan lekosit hancur.
4.    Bercak-bercak zat warna pada sediaan apus dapat disebabkan oleh zat warna tidak disaring sebelum dipakai atau pewarnaan terlalu lama sehingga zat warna mengering pada sedian.
5.    Morfologi sel yang terbaik adalah bila menggunakan darah tepi langsung tanpa anti koagulan. Bila menggunakan anti koagulan sediaan apus harus dibuat segera, tidak lebih dari satu jam setelah pengambilan darah. Penggunaan antikogulan heparin akan menyebabkan latar belakang berwarna biru dan lekosit menggumpal.
6.    Sediaan hapus yang tidak rata dapat disebabkan oleh kaca pengapus yang tidak bersih atau pinggirannya tidak rata atau oleh kaca objek yang berdebu, berlemak atau bersidik jari.
Ciri-ciri sediaan yang tidak baik, yaitu:
1.    Tidak melebar sampai tepi kaca objek, panjangnya setengah sampai dua pertiga panjang kaca.
2.    Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa, pada bagian itu eritrosit terletak berdekatan tanpa bertumpukan.
3.    Rata, tidak berlubang-lubang dan tidak bergaris-garis.
4.    Mempunyai penyebaran lekosit yang baik, tidak berhimpun pada pinggir-pinggir atau ujung-ujung sediaan






BAB V
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa didapatkan retikulosit dalam 1000 eritrosit menggunakan pembesaran 100x.
B.  SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya juga selalu menggunakan APD pada saat sedang berada di dalam laboratorium.





















DAFTAR PUSTAKA
Barta, Made. 2017. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC
Bastiansyah, Eko. 2008. “Panduan Lengkap membaca Hasil Tes Kesehatan”. Depok: Penebar Plus.

Fitriyadi, K dan Sutikno. 2016. Pengenalan Jenis Golongan Darah Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron. Semarang: Jurnal Masyarakat Informatika.

Ivana, Zefika Lutfi dan Gunawan, Lucia Sincu. 2019. “Perbedaan Jumlah Retikulosit Sebelum dan Sesudah Pemberian Tablet Tambah Darah”. Surakarta: Jurnal Biomedika.

Krisnawati, Eni dan Hardisari Hj RR. 2016. Perbandingan Hitung Jumlah Trombosit Meggunakan Alat Haemotologi Analyzer dengan Cara Manual (Fonio) di Laboratorium RSUP Dr Soeradji  Tritonegoro Klaten. Yogyakarta: Jurnal Teknologi Laboratorium.

Sadikin, Mohammad. 2014. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika.
Sosialine, Engko. 2011. “Pedoman Interpretasi Data Klinik”. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Suega, Ketut. 2012. “Aplikasi Klinis Retikulosit”. Bandung: Jurnal Penyakit Dalam.

Sutjahjo, Ari. 2015. “Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Dalam”. Surabaya: Airlangga University Press.

Tjokroprawiro Askandar, Setiawan Poernomo Boedi, Santoso Djoko, Soegiarto Gatot dan Rahmawati Lita Diah. 2015. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Surabaya: Airlangga University Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar