Kamis, 21 Mei 2020

Pemeriksaan G6PD


LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
PEMERIKSAAN GLUKOSA-6-FOSFAT-DEHIDROGENASE (G6PD)

IMG-20190326-WA0004

NAMA            : ROSYINTA MUIM
NIM                : 18 3145 353 103
KELAS           : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
                                                                 2020           





BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR  BELAKANG
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung hemogoblin terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit (sel darah putih) satuan pertahanan sistem imun, diangkut dalam darah tempat cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit penting dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang cedera. Jika darah mengalami gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh akan terganggu pula (Khairil dan Sutikno, 2016).
Menurut Made pada tahun, 2016, darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu:
1.    Plasma darah, bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah.
2.    Butir- butir darah (Blood Corpucles), yang terdiri atas, eritrosit sel darh merah (SDM) –red blood cell (RBC) dan lekosit sel darah putih (SDP)- white blood cell (WBC) dan trombosit butir pembeku platelet.
Keadaan endemis malaria yang telah berlangsung lama di suatu daerah dapat memicu respons perlawanan dalam tubuh manusia secara perlahan (evolusi) untuk menangkal serangan parasit malaria tersebut. Respons perlawanan ini berupa evolusi selektif genom manusia, misalnya terjadinya defisiensi Glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD). Terjadinya seleksi evolusi  malaria terhadap genom manusia dapat terjadi secara independen pada tingkat lokal, artinya respons perlawanan terhadap malaria ini dapat terjadi pada etnik yang berbeda walaupun pada wilayah yang sama. Misalnya ditunjukkan dengan adanya kelainan haemoglobin pada suku Dogon di Mali, Afrika, yang berbeda dengan suku-suku lain di wilayah yang sama (Josef, 2013).
Oleh karena itu, dilakukanlah pemeriksaan G6DP, dimana untuk mengetahui adanya defisiensi G6PD pada seseorang.
B.  TUJUAN
Untuk mengetahui kadar G6PD pada seseorang yang menunjukkan kerentanan terkena penyakit anemia hemolitik.
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup mulai dari binatang primitive sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen, (Oxygen Carrier), mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, serta  mekanisme hemostatis (Eni dan Hj RR, 2015).
Darah adalah salah satu bagian tubuh yang paling mendapat perhatian dan penghargaan yang tinggi. Darah umumnya dipandang sebagai cairan tubuh yang kental, berwarna merah dan tidak transparan serta berada dalam suaturuangan tertutup yang dinamai sebagai sistme pembuluh darah (Mohammad, 2014).
Darah adalah jaringan tubuh yang yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sitem tertutup yang dinmakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transport berbagai bahan serta fungsi homeostasis (Mohammad, 2014).
Volume darah manusia yaitu sekitar 6-8% dari berat tubuh. Darah berfungsi sebagai pengangkut zat-zat makanan hasil metabolisme tubuh, mengangkut oksigen dan karbondioksida yang dihasilkan oleh paru-paru, serta untuk mempertahankan sistem kekebalan tubuh (Eko, 2008).
Pada anemia hemolitik, masa hidup sel darah merah lebih pendek daripada sel darah merah normal yang dapat hidup sampai 120 hari. Walaupun sumsum tulang dapat meningkatkan produksi sel darah merah sampai tujuh kali, namun jumlah ini tetap tidak mencukupi dan terjadilah anemia. Peningkatannya pada produksi sel darah merah meningkatkan kebutuhan folat, yang apabila tidak terpenuhi, dapat memicu terjadinya defisiensi folat (Patrick, 2005).
Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang bekerja pada metabolisme karbohidrat. Enzim ini terdapat dalam sitoplasma, tersebar di seluruh sel dengan kadar yang berbeda-beda. Defisiensi G6PD adalah cacat enzimatik karena mutasi gen G6PD. Varian mutan gen ada 130 jenis mutan. Penyakit ini bila terpapar oksidan, sel eritrosit mudah lisis (Suhartati, 2010).
G6PD (Glukosa 6 Phospat Dehhidrogenase) merupakan pemeriksaan sejenis enzim dalam sel darah merah untuk melihat kerentanan seseorang terhadap anemia hemolitika. Kekurangan G6DP merupakan kelainan genetik terkait gen X yang dibawa kromosom wanita. Nilai normal dalam darah yaitu G6DP negatif. penurunan G6DP terdapat pada anemia hemolitik, infeksi bakteri, infeksi virus dan diabetes asidosis. Peningkatan G6DP dapat juga terjadi karena obat-obatan seperti aspirin, asam askorbat (vitamin C), vitamin K dan asetanilid (Devi, 2009).
Defisiensi G6PD adalah salah satu kelainan yang diturunkan terpaut pada kromosom X. Diperkirakan defisiensi G6PD ditemukan pada sekitar 400 juta penduduk di seantero dunia terutama pada daerah tropis serta banyak ditemukan pada kelompok laki-laki dibandingkan perempuan. Berdasarkan kriteria WHO 1989, defisiensi G6PD diklasifikasikan dalam lima kelompok yaitu: Kelas I adalah varian yang dapat menyebabkan terjadinya chronic non-spherocytic hemolytic anemia, kelas II dan III adalah varian yang ditandai dengan menurunnya aktivitas enzim, kelas IV varian dengan aktivitas enzim normal, serta kelas V varian dengan aktivitas enzim yang berlebihan. Manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada keadaan defisiensi adalah icterus neonatorum pada bayi baru lahir, dan anemia hemolitik akut terutama pada laki-laki. Walaupun kelas II sampai kelas V tidak menyebabkan keadaan anemia hemolitik  kronis, tapi dapat terjadi anemia hemolitik akut bila terdapat faktor pencetus akibat adanya gangguan oksidasi pada infeksi dan penggunaan obat. Preparat obat yang menjadi kontra indikasi adalah gametosida yaitu primakuin. Aktivitas G6PD diperlukan oleh eritrosit dalam mempertahankan keutuhannya terhadap pengrusakan yang disebabkan oleh peroksida yang terbentuk karena pemakaian primakuin. Berdasarkan hal tersebut, maka sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan keadaan enzim sebelum memutuskan memberikan obat primakuin pada penderita malaria (Josef, 2013).
Penyakit defisiensi G6PD adalah penyakit genetik, jadi tidak menular tetapi dapat diwariskan pada keturunannya (penyakit keturunan). Pewarisan sifat keturunan yang terdapat di dalam keluarga dengan defisiensi G6PD yang bersifat resesif terkait kromosom X terutama dari kromosom X (garis ibu) sebagai pembawa. Kromosom X dan Y bertanggung jawab dalam penentuan seks atau jenis kelamin. Inti sel somatik pada pria mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y dengan tanda XY, sedangkan pada wanita mempunyai dua kromosom X dengan tanda XX. Dalam keadaan sakit ditulis Xo, sedangkan pada keadaan normal sebagai X atau Y. Pada penyakit defisiensi enzim ini yang menderita adalah X yang sifatnya resesif sehingga pria bila (XY) hemozigot normal dan bila (XoY) hemozigot penderita atau sakit. Pada wanita (XX) homozigor normal dan (XoX) heterozigot karier atau pembawa sedangkan (XoXo) homozigot penderita adalah sakit (Suhartati, 2010).
Pemeriksaan laboratorium dapat dikelompokkan sebagai pemeriksaan penapisan (screening) dan pemeriksaan diagnostik.  Pemeriksaan penapisan dimaksudkan untuk mendeteksi adanya suatu penyakit sedini mungkin agar intervensi dapat dilakukan lebih efektif.  Umumnya pemeriksaan penapisan relatif sederhana dan mempunyai kepekaan tinggi. Pemeriksaan diagnostik dilakukan pada pasien yang memiliki gejala, tanda klinik, riwayat penyakit atau nilai pemeriksaan penapisan yang abnormal. Pemeriksaan diagnostik ini cenderung lebih rumit dan spesifik untuk pasien secara individual (Engko, 2011).














BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Pra Analitik
1.    Persiapan Pasien: Tidak memerlukan persiapan khusus.
2.    Persiapan Sampel: Sampel darah EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam dan disimpan 24 jam di dalam kulkas dengan suhu 40 0C jika belum langsung diperiksa.
3.    Prinsip Percobaan: Adapun prinsip dari pemeriksaan G6PD yaitu Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH.
4.    Alat dan Bahan
a.    Alat
1)   Tabung reaksi
2)   Rak Tabung
3)   Mikropipet
4)   Torniquet
5)   Stopwatch
b.    Bahan
1)   Spoit
2)   Natrium Sitrat 3,8%
3)   Plasma/Control
4)   Label
5)   Sodium Nitrat glucose solution 0,1
6)   Alkohol swab 70%
7)   Tip
8)   Kertas Label
9)   Pot sampel
10)    Methylene Blue 0.1 ml


B.  Analitik
Prosedur Kerja
1.    Diambil darah dan di masukan kedalam tabung EDTA.
2.    Diberi label pada masing- masing tabung.
3.    Diberi control masing-masing kontrol 1, 2 dan 3.
4.    Dipipet reagen 0,1 ml sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung.
5.    Diberi Methylene Blue 0,1 ml kedalam masing-masing tabung.
6.    Dihomogenkan reagen dan sampel.
7.    Dihomogenkan 2 ml tabung yang berisi control.
8.    Dicampurkan sampel darah dan reagen.
9.    Dihomogenkan kembali menggunkan tangan.
10.     Dipipet 2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen.
11.     Diinkubasi dengan suhu 37°C selama 90 menit.
12.     Dihomogenkan kembali dan ditambahkan 2 ml with distilled water dan di inkubasi.
13.     Dimasukan sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control.
14.     Dihomogenkan kembali dan ditambahkan 20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan.
15.     Ditambahkan 20 mikron test lalu dihomogenkan.
C.  Pasca Analitik
1.    Control Positif: merah Tua
2.    Control Negatif: merah muda
3.    Test: merah muda







BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum yang dilakukan tentang pemeriksaan G6PD untuk mengetahui kadar G6PD pada seseorang yang menunjukkan kerentanan terkena penyakit anemia hemolitik.
Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang bekerja pada metabolisme karbohidrat. Enzim ini terdapat dalam sitoplasma, tersebar di seluruh sel dengan kadar yang berbeda-beda.
Adapun prinsip dari pemeriksaan G6PD yaitu Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH.
Adapun prosedur kerja dari pemeriksaan G6PD yaitu, pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dimana agar saat kita melakukan pemeriksaan kita tidak perlu bolak-balik mengambil alat atau bahan yang dibutuhkan serta untuk meminimalisir waktu pemeriksaan. Setelah itu Diambil darah dan di masukan kedalam tabung EDTA. Kemudian diberi label pada masing- masing tabung agar dapat dibedakan nantinya. Setelah itu diberi control masing-masing kontrol 1, 2 dan 3. Kemudian dipipet reagen 0,1 ml sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung.
Setelah itu diberi methylene blue 0,1 ml kedalam masing-masing tabung dan dihomogenkan reagen dan sampel agar tercampur rata. Kemudian dihomogenkan 2 ml tabung yang berisi control serta campurkan sampel darah dan reagen agar tercampur rata. Setelah itu dihomogenkan kembali menggunakan tangan. Kemudian dipipet 2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen lalu diinkubasi dengan suhu 37°C selama 90 menit.
Setelah itu dihomogenkan kembali dan ditambahkan 2 ml with distilled water dan di inkubasi. Kemudian dimasukan sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control. Setelah itu dihomogenkan kembali dan ditambahkan 20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan. Kemudian ditambahkan 20 mikron test lalu dihomogenkan.
Hasil yang didapatkan yaitu hasilnya negatif pada test. Kesalahan yang dapat terjadi pada pemeriksaan G6PD yaitu:
1.    Tidak menghomogenkan tabung dengan sempurna.
2.    Sampel yang digunakan telah lisis.



























BAB V
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada sampel yang telah diuji, hasilnya negatif.
B.  SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya juga selalu menggunakan APD pada saat sedang berada di dalam laboratorium.





















DAFTAR PUSTAKA
Barta, Made. 2017. “Hematologi Klinik Ringkas”. Jakarta: EGC

Bastiansyah, Eko. 2008. “Panduan Lengkap membaca Hasil Tes Kesehatan”. Depok: Penebar Plus.

Davey, Patrick. 2005. “At A Glance Medicine”. Jakarta: Erlangga Medical Series.

Fitriyadi, K dan Sutikno. 2016. “Pengenalan Jenis Golongan Darah Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron”. Semarang: Jurnal Masyarakat Informatika.

Indriasari, Devi. 2009. “100% Sembuh Tanpa Dokter”. Yogyakarta: Pustaka Grhatama.

Krisnawati, Eni dan Hardisari Hj RR. 2016. “Perbandingan Hitung Jumlah Trombosit Meggunakan Alat Haemotologi Analyzer dengan Cara Manual (Fonio) di Laboratorium RSUP Dr Soeradji  Tritonegoro Klaten”. Yogyakarta: Jurnal Teknologi Laboratorium.

Sadikin, Mohammad. 2014. “Biokimia Darah”. Jakarta: Widya Medika.

Sosialine, Engko. 2011. “Pedoman Interpretasi Data Klinik”. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Suhartati, 2010. “Mewaspadai defisiensi Glukosa 6 Fosfat Dehidrogenase (G6PD) Dalam Upaya Mewujudkan Indonesia Sehat”. Surabaya: Universitas Airlangga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar